Tampilkan postingan dengan label Finance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Finance. Tampilkan semua postingan
Teori Portofolio dan Analisis Investasi

Teori Portofolio dan Analisis Investasi

Apa itu Teori Portofolio?

Teori Portofolio dan Analisis Investasi - 'Don't put all your eaggs in one basket' Jangan letakkan telurmu didalam satu keranjang. Letakanlah dibeberapa keranjang. Mengapa ?

Telur yang diletakkan dalam satu keranjang, apabila keranjangnya jatuh, maka semua telur yang anda miliki akan pecah. Tidak tersisa. Namun apabila telur diletakkan kebeberapa keranjang, ketika kerajang satu jatuh, masih ada keranjang lain yang tidak jatuh. Masih ada telur yang anda miliki.

Harry M. Makowitz [1927] lah orangnya yang mengenalkan istilah tersebut. Dan jangan salah sangka, Harry M. Makwitz bukanlah pedagang telur. Dia seorang ahli ekonomi dan bahkan sempat meraih nobel ekonomi. Makowitz menggunakan Istilah telur untuk menggambarkan TEORI PORTOFOLIO. Portofolio Investasi.

anaisis investasi
Harry M. Markowitz (courtesy of ucsdnews.ucsd.edu)

Pengertian portofolio adalah sekumpulan atau kombinasi dua atau lebih jenis investasi dengan tingkat risiko dan keuntungan yang berbeda beda dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan risiko yang minim.

Kita tahu bahwa tujuan melakukan investasi adalah untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan risiko yang seminimal mungkin. Agar risiko investasinya tidak tinggi, diversifikasi investasi dari teori portofolio adalah salah satu caranya.

Teori portofolio menyarankan untuk berinvestasi tidak hanya pada satu jenis investasi saja. Namun beberapa jenis investasi. Baik yang sejenis ataupun tidak sejenis.

Tujuannya tentu untuk mengurangi risiko. Apabila satu investasi mengalami kerugian, maka akan ada inevstasi yang lain yang bisa menutupinya. Namun jika keputusan investasi hanya pada satu jenis investasi saja, jika investasi tersebut merugikan, maka habis sudah. Tidak ada yang tersisa, tidak ada yang bisa membackup menutupi kerugiannya.

Ada banyak instrumen investasi yang bisa dipilih dan dikombinasikan. Ada investasi dalam bentuk aktiva (aset) seperti membangun pabrik, ekspansi usaha, membeli properti dan lain lain. Ada pula investasi yang berbentuk aset finansial seperti deposito, sekuritas yang bisa obligasi dan saham atau produk derivatif.

Khusus untuk portofolio aset sekuritas ada jasa manajemen investasi yang mengelola portofolio sekuritas secara kolektif dalam sekelompok investor (nasabah). Dan ada yang disebut dengan reksadana.

Portofolio paling tidak ada dua jenis investasi yang bisa dipilih investor. Untuk menyusun portofolio, investor bisa melakukan diversifikasi investasi (memilih beberapa jenis investasi) untuk mengurangi risiko.

Risiko yang bisa tekan dari portofolio adalah risiko non sistematis. Risiko investasi terdiri dari dua macam, Risiko sistematis dan risiko non sistematis.

Risiko sistematis (systematic risk) adalah risiko yang umumnya berasal dari luar perusahaan, bersifat makro. Berdampak pada semua perusahaan yang ada dipasar. Risiko ini cenderung lebih sulit untuk dihindari.

Contohnya risiko pasar, risiko finansial, risiko politik, risiko bunga dan risiko nilai tukar yang fluktuatif. Perubahan perubahan yang terjadi dipolitik misalnya, bisa mempengaruhi performa sebuah perusahaan. Dan itu tidak bisa dikendalikan oleh perusahaan.

Risiko non sistematis (unsystematic risk) risiko yang diakibatkan oleh perubahan yang terjadi pada mikro perusahaan tertentu. Hanya mempengaruhi perusahaan tersebut, tidak semua perusahaan bisa terdampak. Risiko non sistematis bisa diusahakan ditekan dengan portofolio.

Jadi portofolio hanya mengurangi risiko, bukan menghilangkan risiko. Risiko tetap ada, namun bisa ditekan.

Semakin banyak jenis investasi yang dipilih, semakin kecil risiko investasi yang mengancam. Tapi yang perlu diingat, banyaknya portofolio yang berlebih juga bisa berdampak buruk. Portofolio yang gemuk atau berlebih akan menyebabkan biaya-biaya yang berlebih pula, maka keuntungan akan berkurang karena banyaknya biaya yang dikeluarkan. Maka ada batasan batasan dalam menyusun portofolio investasi.

Selain itu tentu ada batasan dana yang dimiliki dalam berinvestasi diberbagai jenis investasi. Jenis investasi mana yang harus dipilih ?

Berapa proporsi dana yang akan diinvestasikan pada masing masing instrumen investasi agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal dengan risiko yang paling kecil?

Pembentukan Portofolio

Untuk melakukan diversifikasi investasi dalam bentuk portofolio, tidak bisa langsung menanamkan invstasi kebeberapa instrumen investasi yang berbeda beda.

Namun ada beberapa hal hal yang perlu dipertimbangkan terlebih dahulu agar instrumen investasi yang akan dijadikan portofolio menghasilkan return yang maksimal. Tidak merugikan. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan portofolio seperti:
  1. Modal (Capital)
  2. Tujuan (Objective)
  3. Waktu
  4. Profil Risiko

1. Modal (Capital)

Seberapa besar modal untuk investas yang dimiliki?

Besar kecilnya modal yang dimiliki berpengaruh terhadap portofolio investasi yang akan diambil. Semakin kecil modal maka semakin kecil pula kesempatan untuk melakukan diversifikasi investasi. Akan ada batasan batasan dalam pembentukan portofolio menyesuaikan dana yang ada.

2. Tujuan (Objective)

Apa tujuan melakukan investasi? Apa tujuannya membeli properti ? apa tujuannya membeli saham? apa tujuannya membeli obligasi? dan instrumen investasi yang lain. Tujuan yang berbeda akan menghasilkan portofolio yang berbeda pula

Tujuan yang ingin mendapatkan yield investasi tentu akan berbeda struktur portofolionya dengan yang bertujuan ingin mendapatkan capital gain.

3. Waktu

Waktu, seberapa cepat keuntungan investasi yang akan diperoleh juga turut diperhitungkan. Apakah investasi berorientasi jangka panjang atau jangka pendek.

4. Profil Risiko

Profil risiko berkaitan dengan karakter investor. Pemilihan portofolio biasanya menyesuaikan degan preferensi profil dari investor. Secara umum, setidaknya ada 3 jenis karakter investor dalam berinvestasi. Ada tipe investor konservatif, moderat dan agresif.

Investor konservatif umumnya akan memilih instrumen investasi yang secara fundamental kondisinya bagus. Cenderung main aman dengan menghidar dari risiko. Tidak terlalu menyukai kondisi yang fluktuatif. Tipe konservatif umumnya akan berinvestasi dalam instrumen investasi yang memiliki pengembalian jangka panjang.

Investor moderat adalah investor yang mempunyai toleransi terhadap risiko yang lebih tinggi asalkan keuntungan yang diperoleh sepadan dengan risikonya. Tipe moderat cenderung mengambil risiko investasi yang sedang.

Sedangkan investor tipe agresif lebih suka tantangan. Cenderung aktif berspekulasi tentang investasi yang berisiko tinggi.

Dengan mengetahui karakter investor, maka portofolio yang dibangun akan berorientasi pada kepentingan investor itu sendiri. Sesuai dengan yang dikehendaki.

Evaluasi Kinerja Portofolio | Analisis Investasi

Apapun jenis investasi yang dipilih, setidaknya harus dilakukan dengan hati-hati dan lakukan evaluasi terhadap kinerja portofolio yang dijalankan. Setidaknya mengevaluasi kinerja portofolio memiliki 3 manfaat seperti ini:
  1. Untuk menganalisa dan mengetahui apakah portofolio yang dimiliki telah sesuai dengan apa yang diharapkan atau tidak
  2. Untuk bisa mengetahui instrumen investasi mana dalam portofolio yang miliki kinerja baik atau tidak
  3. Merevisi investasi dalam portofolio yang kurang menguntungkan.
Hal yang paling utama untuk evaluasi kinerja portofolio adalah risiko dan return portofolio.
Mengevaluasi apakah keuntungan yang diperoleh dari portofolio sesuai dengan risiko yang ada ?

Apakah keuntungan portofolio melebihi portofolio lainnya yang dijadikan patokan (benchmark) ?

Melakukan perbandingan dengan portofolio lain yang lain sebagai patokan bisa dilakukan. Apakah portofolio yang dimiliki menghasilkan keuntungan yang paling lebih tinggi atau lebih rendah.

Karena portofolio yang dijalankan terdiri dari beberapa jenis investasi, ada yang bagus dan ada yang tidak bagus, evaluasi dan cari instrumen investasi yang memiliki kinerja yang kurang memuaskan.

Jika hasilnya ternyata tidak memuaskan, portofolio sebaiknya harus dirombak. Terlebih pada instrumen investasi yang "busuk" diantara investasi yang baik.

Dalam mengevaluasi kinerja portofolio, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan, diantaranya:
  1. Tingkat risiko dan return
  2. Periode waktu
  3. Penggunaan benchmark (tolak ukur)
  4. Tujuan investasi

1. Tingkat Risiko dan Return 

Semakin tinggi risiko, maka semakin juga tingkat keuntungan investasi yang diharapkan. Dalam mengevaluasi portofolio, apakah keuntungan yang diperoleh cukup memadai untuk bisa menutup risiko yang harus ditanggung.

Jangan sampai terjadi high risk, low return. Mendapatan keuntungan yang sedikit dari risiko yang investasi yang tinggi. 

2. Periode Waktu

Perioe pengembalian return portofolio perlu diperhatikan. Misalkan dalam sebuah portofolio terdapat investasi saham A dan saham B. Sama sama menghasilkan return sebesar 10%. Saham A hanya memerukan waktu 5 tahun untuk menghasilkan keuntungan 10 % tersebut, Namun saham B perlu 7 tahun untuk return yang sama.

Saham B layak untuk dievaluasi, untuk dirombak bahkan dilepas digantikan dengan investasi yang lain.

3. Pengguanaan Benchmark

Ketika portofolio sudah dihitung risiko dan return-nya. Dan ketika hasilnya positif, misalkan portofolio secara umum menghasilkan return 10 %. Jangan berpuas dulu. Mengapa ?

Coba dibandingkan dulu dengan portofolio yang lain. Apakah return 10 % persen itu sudah besar? sudah normal? Belum tentu. Menentukan besar kecilnya harus ada tolok ukurnya. Harus ada benchamrknya yang dijadikan patokan. Benchmarknya yaitu portofolio yang lain. 

Jika rata rata portofolio yang lain bisa menghasilkan return portofolio hingga 15 %. Maka portofolio yang hanya menghasilkan return % 10 persen tersebut perlu dievaluasi lagi. Perlu dirombak lagi. Investasi mana yang harus ditinggalkan dan investasi yang mana yang harus dipertahankan dalam portofolio.

4. Tujuan Investasi

Tujuan investai yang berbeda akan berpengaruh pada kinerja portofolio investasi yang dimiliki. Portofolio yang berorientasi pertumbuhan jangka panjang akan berbeda dengan yang berorientasi jangka pendek. Return portofolio yang kecil belum tentu buruk, tergantung pada tujuan investasi.

Misalnya, ketika dalam portofolio terdapat saham PT A. PT memutuskan untuk tidak membagikan dividen, laba yang ada akan dijadikan modal tambahan untuk ekspasi perusahaan. Ada kemungkinan saham PT A yang tidak membagikan dividen tersebut sahamnya dipasar modal akan semakin rendah. Bagi investor yang berorientasi return jangka pendek, itu bisa disebut dengan kerugian dan melepas saham PT A.

Namun bagi  investor yang tujuan investasinya berorientasi jangka panjang, belum tentu merugikan. Justru akan menguntungkan karena kedepannya perusahaan tersebut akan lebih berkembang dengan tidak membagikan dividen. Tidak melihat penurunan harga saham sebagai sesuatu yang buruk dimasa depan. 

Penilaian Kinerja Portofolio

Ada beberapa metode dalam menilai kinerja sebuah portofolio, antara lain:
  1. Indeks Sharpe | reward to variability ratio
  2. Indeks Treynor | reward to volatility ratio
  3. Indeks Jensen | Jensen's differential return
Pembahasan mengenai metode penilaian kinerja portofolio ini terlalu panjang dan teknis. Mungkin lain waktu saja penjelesannya.

1. Indeks Sharpe | Reward to Variability Ratio

Indeks sharpe ditemukan oleh William Sharpe. Indeks ini menggunakan benchmark yang berdasarkan pada capital market  line (garis pasar modal). Capital market line maksudnya adalah garis yang menunjukkan kemunginan kemungkinan kombinasi portofolio yang terdiri atas aktiva beresiko dan aktiva bebas risiko. 

Aktiva beresiko adalah aktiva dimana return pengembalian bersifat tidak pasti. Sedangkan aktiva bebas risiko adalah aktiva dimana return dimasa depan secara pasti bisa diketahui, contohnya surat utang negara.

Indeks sharpe ini mengevaluasi sebuah portofolio didasarkan pada tingkat return dan diversifiaksi portofolio

Caranya yaitu dengan membagi premi risiko sebuah portofolio dengan standar deviasnya. Semakin tinggi Indeks sharpe portofolio bila dibandingkan dengan portofolio yang lain maka semakin bagus kinerja portofolio tersebut.

2. Indeks Treynor | Reward to Volatility Ratio

Indeks Treynor dikemukakan oleh Jack Treynor. Indeks ini menggunakan security market line sebagai benchmarknya. Portofolio disini diasumsikan bahwa portofolio telah didiversifikasikan dengan sangat baik sehingga risiko yang dianggap mengancam adalah risiko sistematis.

Risiko tidak sistematis diabaikan dalam indeks treynor ini. Preferensi risiko personak tidak diperhitungkan. Treynor juga menyatakan ada beberapa komponen risiko yang diperhatikan, yaitu resiko yang ada pada pasar yang berfluktuatif dan sekuritas individual yang fluktuatif.

3. Indeks Jensen | Jensen's Differential Return

Indeks jensen ini memperlihatkan perebedaan expected return dengan aktual return jika portofolio berada pada garis pasar modal.

Pengukuran indeks jensen ini memerlukan tingkat return bebas risiko yang berbeda pada setiap interval waktu yang diperlukan karena masing masing return dan risiko portofolio akan bervariasi menyesuaikan periode waktunya.

Penutup

Di Indonesia perkembangan investasi begitu pesat bukan hanya semakin banyaknya investor yang bermain, meningkatnya jumlah dana yang diinvestasikan namun juga ditunjukkan dengan semakin meningkatnya opsi atau alternatif jenis instrumen investasi yang bisa dijadikan pilihan dalam berinvestasi.

Pengetahuan tentang teori portofolio menjadi wajib dimiliki dengan banyaknya jenis investasi yang akan diambil investor.

Diversifikasi mungkin adalah sifat dasar manusia. Insting manusia kebanyakan akan menempatkan harta yang dimiliki kedalam investasi dibeberapa tempat sekaligus.

Terkadang yang dicari bukan keuntungannya. Tapi hanya karena timbul "rasa nyaman"  apabila terjadi sesuatu yang buruk pada salah satu harta yang dimilikinya, harta yang lain tetap aman.

Sumber Dana Perusahaan

Sumber Dana Perusahaan

Pengertian Sumber Dana Perusahaan - Agar perusahaan bisa beraktifitas dengan normal, untuk melakukan ekspansi atau pengembangan usaha, atau bahkan hanya untuk bisa bertahan hidup dan bahkan untuk membayar hutang pun. Perusahaan membutuhkan DANA untuk melakukannya.

Seluruh kegiatan perusahaan mulai dari kegiatan kecil hingga transaksi strategis mutlak membutuhkan dana yang cukup.

Darimana perusahaan memperoleh dana tersebut ?
Darimana sumber sumber keuangan perusahaan diperoleh ?

Sumber Dana Perusahaan

Memperoleh sumber pendanaan adalah salah satu dari fungsi manajemen keuangan.

Umumnya, sumber dana perusahaan bisa diperoleh dari 3 kelompok sumber dana. Sumber dana jangka pendek, jangka menengah serta jangka panjang.

Sumber Dana Jangka Pendek

Pendanaan perusahaan yang didapat dari sumber dana jangka pendek umumnya digunakan untuk modal kerja perusahaan. 

Dana yang diperoleh dengan skema ini harus dibayar/dikembalikan dalam rentang waktu setahun buku akuntansi atau kurang.

Tidak boleh lebih dari satu periode akuntansi.

Contohnya adalah pinjaman dari bank jangka pendek. Pendanaan persediaan. Kredit perdagangan.

Sumber Dana Jangka Menengah

Umumnya, perusahaan yang sumber pendanaannya berasal dari sumber dana jangka menengah karena adanya keperluan yang ternyata tidak bisa dipenuhi oleh pendanaan jangka pendek namun terlalu berlebih atau terlalu sulit didapatkan dengan skema pendanaan jangka panjang.

Rentang waktu dalam pengembalian sumber dana jangka menengah adalah lebih dari satu tahun buku akutansi dan tidak lebih dari lima tahun buku.

Contoh dari pendanaan jangka menengah adalah leasing, term loan, equipment loan.

Sumber Dana Jangka Panjang

Manajer keuangan memilih menggunakan pendanaan jangka panjang umumnya karena perusahaan akan melakukan ekspansi usaha yang masif dalam skala perusahaan tersebut. Strategis bagi perusahaan. Walaupun banyak alasan alasan lain yang selain itu. Yang memerlukan pendanaan dalam jumlah yang cenderung besar bagi perusahaan.

Contohnya, perusahaan yang akan melakukan ekspansi usaha dengan mengakuisisi perusahaan sejenis atau perusahaan suplier, membeli atau membangun aset aset tetap jangka panjang seperti tanah, pabrik, mesin ataupun proyek konstruksi yang lain.

Tempo dalam pengembalian pendanaan jangka panjang umumnya lebih dari lima tahun buku.

Jenis pendanaan jangka panjang contohnya adalah penerbitan obligasi, hipotik ataupun listing go public dilantai bursa dengan IPO saham perusahaan.

Asal Sumber Pendanaan Perusahaan

1. Sumber Internal Perusahaan

Pendanaan yang berasal dari internal perusahaan contohnya adalah retained earning (laba ditahan).

Laba ditahan didapat dari besarnya laba perusahaan yang diperoleh pada periodde tertentu.

Laba perusahaan pada periode tertentu belum tentu bisa menjadi laba ditahan yang bisa digunakan untuk pendanaan perusahaan.

Laba perusahaan akan dibagi menjadi 2. Laba ditahan dan deviden yang akan dibagikan kepada pemilik perusahaan.

Besar kecilnya laba ditahan dan deviden diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan.

Persentasenya tergantung pada hasil RUPS, apakah laba akan dibagikan seluruhnya menjadi deviden, atau menjadi laba ditahan atau sekian persen deviden dan sekian persen menjadi laba ditahan.

Semuanya tergantung pada keputusan dalam RUPS perusahaan.

Penyusutan.

Berbagai sumber menyebutkan penyusutan adalah salah satu sumber pendanaan internal. Namun saya pribadi masih belum bisa menjelaskan bagaimana penyusutan bisa menjadi sumber pendanaan yang bisa dipakai oleh manajemen keuangan.

2. Sumber Eksternal Perusahaan

Pendanaan yang berasal dari eksternal perusahaan adalah sumber dana yang berasal dari para kreditur dan pemilik perusahaan.

Apa ? pemilik perusahsaan adalah sumber eksteral ?

Ya dalam dunia akuntansi, dalam perusahaan yang modern. Pemilik dan perusahaan adalah 2 entitas yang terpisah satu sama lain. Harus dipisahkan dan tidak boleh dicampur-baurkan

Sumber dana perusahaan yang berasal dari kreditur adalah hutang bagi perusahaan. Pendanaan seperti ini biasanya disebut dengan debt financing.

Sumber dana perusahaan yang berasal dari pemilik adalah penambah modal bagi perusahaan. Pendanaan ini bisa mengubah kompisisi ekuitas pada neraca perusahaan. Pendanaan seperti ini biasanya disebut dengan equity financing.

Pihak pihak yang menjadi sumber dana eksternal biasanya terdiri dari :

# Supplier

Supplier umumnya memberikan pinjaman dalam bentuk bukan cash. Namun dalam bentuk pemberian kredit dalam transaksi pembelian barang atau persediaan perusahaan.

Pinjaman ini biasanya untuk jangka pendek atau kurang dari satu tahun buku. Walaupun ada juga yang jangka menengah dan panjang. 

# Bank

Bank adalah sasaran utama manajemen keuangan dalam mencari sumber dana bagi perusahaan. Baik untuk jangka pendek, menengah bahkan jangka panjang sekalipun.

# Pasar Modal

Didalam pasar modal, perusahaan bisa mencari sumber dana dengan cara menerbitkan obligasi ataupun saham baru (IPO atau right isssu).

Obligasi akan menambah hutang perusahaan, dan pernbitan saham baru akan menambah permodalann perusahaan sekaligus mengubah struktur komposisi ekuitas pada neraca perusahaan.

Bergabung dengan pasar modal, perusahaan bisa dengan mudah mendapatkan pendanaan. Dipasar modal sudah siap ribuan kreditor ataupun investor yang akan membeli obligasi, saham ataupun surat berharga yang diterbitkan perusahaan untuk pendanaan mereka.  

Berbagai cara diatas bisa dilakukan oleh manajer keuangan dalam usaha untuk mendapatkan dana perusahaan,

Dengan mendapatkan dana yang dibutuhkan, yang sudah dianggarkan, yang telah direncanakan oleh manajemen keuangan perusahaan. Perusahaan bisa memiliki gerak ruang yang cukup untuk bisa beroperasi, melakukan ekspansi usaha, diversifikasi usaha ataupun hanya untuk sekedar bertahan hidup.

Penggunaan dana yang telah diperoleh ini akan menjadi bahasan menarik lainnya. Terima kasih telah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat.

Hutang Jangka Panjang, Keuntungan dan Risikonya

Hutang Jangka Panjang, Keuntungan dan Risikonya

Hutang jangka panjang adalah pinjaman yang memiliki tempo pembayaran lebih dari 5 tahun. Umumnya utang jangka panjang memiliki rentang waktu pembayaran 5 - 30 tahun.

Modal (capital) bagi sebuah unit usaha sangat dibutuhkan. Modal dibutuhkan untuk operasional perusahaan, pengembangan usaha dan bahkan untuk mengawali usaha (start-up).

Bagaimana modal bisa diperoleh ?

Salah satu sumber modal adalah utang jangka panjang.

hutang jangka panjang

sumber gambar : moneysave

Hutang Jangka Panjang

Memiliki hutang dalam berbisnis adalah keniscayaan.

Hutang bisa muncul karena adanya kebutuhan.

Kebutuhan untuk operasi perusahaan, kebutuhan untuk memulai usaha, kebutuhan untuk pengembangan usaha, kebutuhan untuk membayar hutang.

Dan kebutuhan perusahaan yang lain.

Perusahaan yang memiliki visi jauh kedepan.

Memikirkan bahwa perusahaan akan terus beroperasi hingga selamanya.

Sudah selayaknya untuk mempertimbangkan opsi memenuhi kebutuhan pendanaan dengan hutang jangka panjang.
"Hutang jangka panjang adalah hutang yang memiliki tengggang waktu pembayaran lebih dari satu tahun buku atau operasional perusahaan. [Kieso]"
Berbeda dengan hutang jangka pendek yang memiliki jatuh tempo atau segera dibayaran selama kurang dari satu tahun buku.

Sumber utang jangka panjang biasanya diperoleh dari bank, investor ataupun perusahaan lain.

Hutang jangka panjang umumnya digunakan untuk keperluan investasi perusahaan.

Investasi yang manfaatnya juga akan dirasakan bukan hanya satu dua periode saja, namun hingga jangka waktu yang relatif lama.

Bisa 10 -50 tahun atau lebih.

Sifatnya lebih permanen.

Contoh investasi seperti membeli tanah, pembangunan pabrik baru, membangun gedung baru, membeli perusahaan supplier, akuisisi perusahaan pesaing.

Dan lain sebagainya.

Contoh Utang Jangka Panjang

Contoh utang jangka panjang adalah hipotik dan obligasi.

#1. Hipotik

Hutang atau pinjaman hipotek adalah hutang yang menggunakan aktiva tetap sebagai jaminan.

 Aktiva tetap yang bisa dijaminkan contohnya gedung atau bangunan, rumah, mesin, tanah dan atau aset tidak bergerak lainnya yang dimiliki oleh perusahaan.

Kreditur atau pemberi pinjaman dapat menyita, mengambil dan menjual barang yang telah dijaminkan tersebut apabila perusahaan tidak bisa melunasinya.

Hutang pinjaman hipotik ini contohnya adalah pinjaman kepada bank.

Untuk memperoleh pinjaman hipotik ini, bank memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

Besar kecilnya pinjaman akan menyesuaikan dengan jaminan aset yang tersedia dan juga kemampuan membayar.

Kemampuan membayar ini bisa dilihat dari kelancaran arus kas, laba tahunan yang diperoleh perusahaan dan indikator lainnya yang menjadi pertimbangan pihak bank untuk menyetujui pinjaman.

Jangka waktu pembayaran berdasarkan kesepakatan antara peminjam dan bank yang telah disepakati. Umumnya 5-10 tahun.

#2. Obligasi

Obligasi adalah utang yang diperoleh dengan cara menerbitkan surat berharga obligasi.

Pembeli obligasi dikenal dengan pemegang obligasi yang artinya juga adalah sebagai pemberi hutang (kreditur)

Surat berharga obligasi berisi tentang nominal obligasi, bunga obligasi pertahun, tanggal pelunasan dan hal lain sesuai dengan jenis obligasi yang disepakati oleh penerbit (perusahaan) dengan pembeli (pemberi pinjaman).

Keuntungan Utang Jangka Panjang

Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dengan pembiayaan utang jangka panjang bagi perusahaan.

#1. Pengurang Pajak

Bunga pinjaman dari hutang jangka panjang adalah biaya yang harus dibebankan kepada perusahaan tiap tahunnya.

Secara pencatatan akuntansi, bertambahnya beban bunga akan mengurangi laba perusahaan yang kemudian memperkecil pajak yang akan dibayarkan.

#2. Biaya Modal Rendah

Biaya modal dari utang jangka panjang seperti obligasi dan hipotik cenderung lebih rendah dibandingkan biaya modal dari pendanaan lain seperti penerbitan saham baru.

Maksud biaya modal adalah biaya yang dikelaurkan untuk mendapatkan modal (dalam hal ini utang)

#3. Biaya Bunga Terbatas

Biaya bunga terbatas maksudnya adalah besar kecil tingkat bunga utang telah ditentukan.

Berapapun laba bersih yang berhasil dibukukan oleh perusahaan, jumlah bunga yang dibayarkan tetap.

Hal ini akan berbeda jika perusahaan mendapatkan dana bukan selain dari utang seperti penambahan saham baru.

Jumlah dividen yang dibayarkan tergantung dari laba bersih yang dihasilkan.

#4. Tidak Mengubah Pengendalian

Pemberi pinjaman atau kreditur dengan skema yang lain tidak memiliki hak suara perusahaan. 

Kreditur tidak bisa mengintervensi kebijakan manajemen perusahaan secara langsung.

Kreditur tidak akan pernah bisa mempengaruhi kebijakan kebijakan yang akan dan sedang dijalankan oleh manajemen.

Hal ini tentu akan berbeda jika perusahaan menerbitkan saham baru dalam pendanaannya.

Penerbitan saham baru akan membuat kepemilikan dan pengendaian perusahaan akan berubah.

#5. Lebih Fleksibel

Struktur keuangan dan struktur modal perusahaan tidak kaku dan bisa diubah kapan saja sesuai dengan keinginan.

Maksudnya...

Ketika perusahaan bisa langsung melunasi utangnya sekaligus tanpa harus menunggu jatuh tempo yang masih lama.

Memang hal ini akan menimbulkan biaya dan denda.

Tetapi paling tidak struktur modal bisa dengan mudah dan cepat bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan risiko.

Namun bila dalam perjanjian utang dengan kreditur memberikan opsi skema penebusan, maka pelunasan utang sebelum jatuh tempo akan jauh lebih mudah.

#6. Kepastian Perencanaan Keuangan

Utang memiliki waktu pembayaran pokok dan bunga yang sudah ditentukan.

Waktu dan nominalnya sudah pasti dan jelas.

Kepastian waktu dan nominal yang akan dibayarkan ini memudahkan manajemen keuangan dalam merencanakan keuangan perusahaan secara pasti.

Risiko Hutang Jangka Panjang

Sisi lain dari keuntungan yang akan diperoleh adalah adanya resiko yang akan mengiringi kebijakan hutang jangka panjang. Seperti ini:
  • Nilai saham perusahaan bisa terkoreksi apabila respon pasar terhadap kebijakan hutang jangka panjang tidak terlalu baik.
  • Menjadi beban tetap setiap tahun yang harus ditanggung oleh perusahaan.
  • Adanya resiko gagal bayar yang bisa membuat perusahaan bisa dipailitkan.
  • Semakin besar dan semakin lama jangka waktu pinjaman membuat resiko juga semakin tinggi.
  • Penggunaan dana hasil pinjaman yang tidak efektif bisa mengganggu performa perusahaan. Terlebih hubungannya dengah arus kas perusahaan.

Mengambil Hutang Jangka Panjang atau Tidak?

Mencapai tujuan jangka panjang dengan sarana utang jangka panjang adalah sebuah opsi.

Keinginan untuk berkembang dan maju memenangi persaingan mendorong manajer keuangan mengambil langkah ini.

Nominal yang besar dan pengembalian dalam tempo yang cukup lama adalah sebuah kesempatan.

Mengukur sebesar apa nominal jumlah utang yang dibutuhkan dan kemungkinan kesanggupan membayar adalah salah satu fungsi pendanaan dari manajer keuangan.

50 Miliar mungkin jumlah yang tidak begitu besar bagi perusahaan sekelas Ciputra Group.

Namun sangat besar diluar jangkauan bagi UD Mekar Jaya, usaha furniture milik Pak Haji Slamet.

Rasio hutang harus dicermati.

Besar kecilnya jumlah utang jangka panjang yang ideal diputuskan dengan melihat struktur modal perusahaan.

Manajemen keuangan semestinya sudah paham, berapa jumlah ekuitas yang ada, berapa jumlah aset yang dimiliki dan termasuk berapa jumlah laba yang dihasilkan atau akan dihasilkan.

Maka muncullah istilah Rasio Solvabilitas.
" Rasio solvabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kesanggupan perusahaan untuk membayar kewajiban atau hutang jangka panjang jika perusahaan dilikuidasi. [Syafri (2008:303)] "
Manajer keuangan sudah selayaknya mengetahui dengan detail rasio yang ada.

Beda perusahaan, beda pula rasionya, beda industri, beda pula rasionya.

Ketidak-akuratan rasio yang dihitung, penggunaan dana dari hutang yang tidak tepat, dan tidak tercapainya target yang diharapkan dengan penggunaan dana dari hutang jangka panjang adalah mimpi buruk.

Telat dan ketidak-sanggupan membayar cicilan merupakan gejala.

Semangat kreditur dalam menuntut pailit perusahaan adalah niscaya.

Namun jika terjadi sebaliknya, tujuan perusahaan dengan mudah bisa dicapai.

Mengenal HIPOTIK, Sebuah Hutang Jangka Panjang

Mengenal HIPOTIK, Sebuah Hutang Jangka Panjang

Pengertian Hipotik

Hipotik adalah utang yang menggunakan aktiva tetap sebagai jaminan. aktiva tetap perusahaan contohnya gedung, bangunan, rumah, mesin, tanah maupun kapal laut.

Perusahaan yang membutuhkan dana untuk berkembang menembuh berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pendanaan jangka panjang. Bisa menempuh cara menambah modal, menggunakan laba yang dihasilkan (retaired earning) ataupun dengan berhutang.

Untuk jangka panjang. Selain obligasi, hipotek atau juga dikenal sebagai mortgage adalah jenis hutang yang paling sering digunakan.

Umumnya, pihak kreditur dengan skema pinjaman hipotik adalah bank. Tentunya dengan syarat syarat perbankan tertentu yang harus dipenuhi apabila ingin mendapatkan pinjaman hipotik.

Jatuh tempo hipotik adalah dalam jangka waktu yang cukup lama. Bisa 15-25 tahun.

Setelah adanya perjanjian hutang hipotik, kreditur atau pemberi pinjaman akan memegang kepemilikin aset perusahaan. Namun selama dalam masa cicilan pembayaran hutang dan bunga. Perusahaan masih bisa menempati, memanfaatkan, mengoperasionalkan aset tersebut seperti aktiva tetap milik perusahaan sendiri.

Pengertian hipotik dikenal juga dengan 'klaim atas properti'. Apabila peminjam tidak bisa melakukan pembayaran hipotik. Kreditur bisa menyita aset yang dijadikan jaminan atas hipotik tersebut.

pinjaman dana hipotek
sumber gambar : shareicon

Bunga Hipotik

#1. Hipotik Bunga Tetap

Dengan skema bunga tetap ini. Peminjam uang akan membayarkan pinjaman pokok dan bunga sesuai yang telah disepakati. Bunga yang dibayarkan tingkat suku bunganya tetap. Tidak berubah-ubah.

Jadi semisal nanti kedepan suku bunga umum naik turun fluktuatif, Tingkat suku bunga utang hipotik tidak akan berubah.

Mungkin bulan depan tingkat suku bunga umum naik, maka suku bunga hutang hipotik tidak ikut naik. Dan begitu pula sebaliknya. Apabila kedepan tingkat suku bunga secara umum turun. Maka tingkat suku hipotik masih tetap.

#2. Hipotik Bunga Mengambang

Mungkin ada istilah lain yang lebih tepat dan lebih umum. Maksudnya bunga mengambang adalah. Besaran tingkat suku bunga yang dibayarkan dengan skema ini adalah tidak tetap alias mengambang. Mengikuti tingkat suku bunga bank yang berlaku dipasaran.

Mungkin pada bulan ini tingkat suku bunga hipotik sebesar sekian persen. Namun pada periode berikutnya, angkanya bisa saja berubah. Bisa turun dan juga bisa naik. Sesuai dengan tingkat suku bunga bank.

Objek Hipotik

Objek utang hipotik adalah aset tidak bergerak yang bisa dipindah-tangankan beserta seluruh perlengkapan yang ada. Misalnya jaminan atas semua tanah yang berstatus hak milik. Hak guna usaha dan hak guna bangunan, Seperti bangunan rumah, pabrik, gudang, hotel dan lain sebagainya.

Hipotik kapal laut.

Di Indonesia, kapal laut bisa menjadi objek hipotik. Ukuran kapal laut yang bisa dijadikan jaminan hipotik adalah kapal laut yang berukuran 20 m3 (kotor) keatas.

Ciri Khas dan Sifat Hipotik

Ciri khas hipotik berdasarkan KUH Perdata adalah sebagai berikut :
  • Ondeelbar, adalah hipotik tidak bisa dibagi-bagikan karena hipotek berada diatas semua aset yang menjadi objeknya. Artinya apabila sebagian hutang hipotik telah dibayar maka sebagian hak hipotik tidak otomatis dihapus.
  • Accecoir, adalah hipotik merupakan sebuah perjanjian tambahan. Perjanjian utamanya adalah perjanjian hutang-piutang.
  • Verhallsrech, Bingung cara membacanya? berhaalsrecht adalah hak mengenai pelunasan hutang saja. Tidak mempunyai hak untuk memiliki benda yang dijaminkan. Tetapi apabila diperjanjikan, kreditur bisa memiliki hak untuk menjual aset jaminan yang disepakatai atas kekuasaan sendiri apabila debitur melakukan kelalaian..
Berdasarkan pada KUH Perdata, sifat yang dimiliki oleh hipotik dari apa yang ada pada hak kebendaan biasanya seperti :
  • Absolut, merupakan hak yang bisa dipertahankan terhadap segala tuntutan dari siapapun.
  • Droit de Suite merupakan hak dimana hak tersebut mengikuti aset yang dijaminkan berada ditangan siapa aset tersebut berada.
  • Droit de Preference, adalah seseorang yang memiliki hak untuk didahulukan pembayaran piutangnya diantara para pemberi hutang lainnya. Hak disini tidak dipengaruhi oleh situasi pailit atau penyitaan yang dilakukan terhadap aset yang dijaminkan.

Asas dalam Hipotik

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan dalam bukunya Hukum Perdata: Hak Jaminan Atas Tanah menjelaskan tentang 3 asas hukum yang berada dalam hipotik adalah

#1 Asas Specialiteit

Asas Specialiteit adalah asas yang menyatakan bahwa utang hipotek hanya bisa dilandasi atas aset aset yang ditunjuk khusus.

Aset tidak bergerak yang yang terikat sebagai tanggungan.

Contohnya aset yang jaminkan hipotik itu wujudnya seperti apa, dimana letak lokasinya, berapakah besar kecil atau luas aset beserta batasan batasannya.

#2. Asas Publicitiet 

Asas Publicitiet merupakan asas dimana hipotik tersebut diwajibkan untuk didaftarkan pada register umum agar bisa diketahui oleh pihak lainnya.

#3. Asas Ondeelbaarheid 

Asas Ondeelbaarheid atau atas tidak bisa dibagi bagi. Artinya hipotik membebani semua aset  yang menjadi jaminan dalam keseluruhan. Aset dan setiap bagian-bagian dari aset bergerak. Apabila hutang hipotik telah dibayar sebagian, maka pembayaran tersebut tidak akan mengurangi sebaian dari aset yang dijaminkan.

    Janji (Bedingen) dalam Hipotik | Bedigen

    Umumnya, pada perjanjian utang hipotik, sudah sangat lazim diadakan perjanjian-perjanjian yang tujuannya untuk melindungi kepentingan peminjam atau kreditur agar tidak dirugikan.

    Perjanjian tersebut harus dicantumkan dengan tegas didalam akta hipotik. Biasanya perjanjian dalam hipotik adalah berisi tentang janji mengenai sewa. Janji untuk tidak dibersihkan. Janji mengenai asuransi. Janji untuk menjual atas kekuasaan sendiri. Di Indonesia, semua isi perjanjian tersebut sudah diatur dalam undang-undang yang ada.

    Hak dan Kewajiban dalam Hipotik

    Terhitung ketika terjadinya pembebanan hutang hipotik, maka ketika itu pula muncul hak dan kewajiban diantara kedua belah pihak. Pemberi (penghutang) dan penerima hipotik (kreditur).

    Hak pemberi utang hipotik adalah :
      1. Tetap bisa menggunakan aset.
      2. Tetap menguasai aset, asalkan pemberi pinjaman tidak dirugikan. Seperti merubah aset. Mengurangi nilai, ukuran dan kapasitas aset jaminan.
      3. Mendapatkan dana pinjaman.
        Kewajiban pemberi hutang hipotik adalah :
          1. Membayar cicilan hutang pokok dan bunga pinjaman hipotek.
          2. Jika terjadi keterlambatan pembayaran, peminjam berkewajiban membayar denda.
            Hal hal yang menjadi kewajiban pemberi utang hipotik adalah hak yang akan diterima oleh penerima hutang hipotik seperti hak menerina pembayaran cicilan hutang pokok beserta dengan bunga pinjamannya.

            Menerima pembayaran denda apabila pemberi utang hipotik melakukan keterlambatan pembayaran.

            Kewajiban penerima hipotik, Tentu saja apa saja yang merupakan hak pemberi utang hipotik adalah merupakan kewajiban bagi penerima utang hipotik seperti berkewajiban menberi pinjaman kepada pemberi hipotik.

            Berakhirnya Hipotik

            Bagaimana sebuah perjanjian hutang hipotik bisa berakhir ?

            Ada beberapa hal yang menyebabkan terhentinya sebuah perjanjian utang hipotik adalah :
            • Hutang hipotik beserta bunga telah dibayar lunas oleh pemberi hipotik.
            • Musnahnya aset yang menjadi jaminan pada perjanjian hipotik. Hal ini bisa terjadi misalnya gedung yang hancur karena bencana alam. Kapal yang tenggelam. Tanah yang longsor dan lain lain.
            • Berakhirnya jangka waktu hipotik, maka hapuslah hak hipotik tersebut.
            • Menurut KUH Perdata pasar 1169, penghapusan hak  hipotik juga bisa apabila pemilik aset bergerak yang dijaminkan hanya memiliki hak bersyarat terhadap aset tersebut dan hak bersyarat tersebut terhenti.
            • Bisa juga perjanjian hipotik gugur disebabkan oleh daluarsa yang membuat seseorang bebas dari sebuah kewajiban (daluarsa ekstraktif)
            • Apabila kreditur atau penerima hipotik dengan sukarela melepaskan hak hipoteknya. Pelepasan sukarela seperti ini tidak ditentukan secara bentuk hukumnya. Namun harus diungkapkan dengan tegas dan jelas. 

            Manfaat Hipotik

            Ada beberapa manfaat dari mengambil utang hipotik daripada pendanaan jenis lain. diantarnaya:

            # Manfaat Pajak

            Bunga dari utang hipotik bisa mengurangi pajak.

            Bunga yang harus dibayarkan setiap periode menjadi salah satu pengurang beban pajak perusahaan. Dengan bunga ini, perusahaan dapat membayar pajak lebih kecil daripada yang seharusnya dibebankan jika tanpa adanya bunga.

            Misalnya, perusahaan ingin membeli sebuah gudang. Jika perusahaan tersebut memilih membeli dengan membayar tunai dari kas internal perusahaan. Maka tidak ada bunga.

            Namun apabila perusahaan membeli gudang tersebut dengan meminjman menggunakan hipotik bank misalnya, maka akan ada bunga. Dan bunga ini bisa mengurangi jumlah pajak terutang perusahaan. Terlebih jika dibandingkan dengan pembelian gudang secara tunai.

            Dan umumnya tingkat bunga hipotik lebih rendah dari instrumen lain (karena pinjaman dijamin.) dengan jangka waktu pelunasan yang cukup lama.

            Kelebihan lain adalah jika bunga hipotik diputuskan dalam bentuk bunga tetap (fixed rate) maka ketika suku bunga acuan secara umum naik, bunga hipotik yang dibayarkan masih tetap tidak mengikuti kenaikan.

            Namun minusnya apabila suku bunga turun, sementara bunga hipotik tetap di rate yang lebih diatas.

            Kelebihannya adalah bahwa perusahaan bisa dengan mudah dan presisi merencanakan arus kasnya. berapapun suku bunga dipasaran. P

            erusahaan sudah mempunyai perhitungan yang pasti terhadap pembayaran bunga hipotiknya. Perusahaan mudah melakukan perencanaan pembayaran.

            # Kreditur tidak Memiliki Hak Suara

            Manfaat lain dari pendanaan utang hipotek adalah bahwa pemilik hipotik atau pemberi hutang tidak memiliki suara dalam internal perusahaan.

            Maksudnya, peminjam tidak bisa ikut campur masalah internal perusahaan. Tidak bisa mempengaruhi, mengubah, ataupun mendikte arah jalannya perusahaan.

            Tentu hal ini berbeda jika pendanaan yang dibutuhkan didapat dengan skema penerbitan saham baru dimana para pemilik sahamnya bisa memiliki suara dalam perusahaan.

            Apabila perusahaan sudah merasa tidak membutuhkan utang lagi. Perusahaan bisa memutuskan untuk melunasi sisa hutang yang ada lebih cepat dari durasi hitpotik.

            Kapan saja. Tanpa harus lama menunggu mencicil hingga batas terakhir pelunasan.

            Walaupun munkin nanti ada denda atau segala biaya administrasi yang lain yang mengikutinya.

            # Bisa Memanfaatkan Aktiva Jaminan

            Manfaat hipotik yang lain adalah, perusahaan masih bisa menggunakan, mengoperasikan atau memanfaatkan aset tetap yang telah menjadi jaminan hipotik.

            Dengan menggunakan aset yang dijaminkan, kinerja perusahaan tidak akan terganggu sedikitpun.

            Perusahaan tidak bisa menggunakan aset yang dijaminkan apabila perusahaan tidak mampu untuk melakukan pembayaran pinjaman.

            Namun, walaupun perusahaan bisa memanfaatkan aset yang menjadi jaminan pinjaman hipotik, aset tersebut tidak boleh berubah. Tidak berkurang kapasitasnya. Tidak berkurang ukurannya. Tidak berkurang nilainya akibat penggunaan.

            Kekurangan Hipotik

            Kekurangan pendanaan dari hipotik terdapat pada biaya yang lumayan tinggi dan penggunaan aktiva tetap yang menjadi jaminan dibatasi.

            # Biaya Hipotik

            Sama dengan halnya produk perbankan lain, kelemahan utama utang hipotik adalah adanya biaya yang cukup besar dalam dalam pembayarannya.

            Didalam beberapa kasus, total jumlah pembayaran pinjaman bahkan bisa melebihi harga asli dari aktiva tetap yang dijaminkan oleh perusahaan.

            Kelebihan total pembayaran ini umumnya terdiri atas bunga atas utang hipotek serta biaya premi asuransi aktiva tetap.

            Serta ada tambahan biaya lain yang harus dikeluarkan, peminjam harus membayar biaya notaris, biaya administrasi tambahan bank dan bahkan biaya atas apraisal atau penilaian aktiva tetap yang akan dibeli atau dijaminkan.

            Jumlah dari biaya biaya ini cukup besar jika ditotal.

            # Penggunaan Aktiva Dibatasi

            Kelemahan dari utang hipotek yang lain adalah ketika aktiva tetap yang menjadi jaminan atas utang hipotek, maka penggunaan atas aktiva tetap tersebut akan dibatasi.

            Aktiva tetap tersebut memang masih bisa dipakai, dimanfaatkan, dioperasikan oleh perusahaan. Namun penggunaannya akan terbatas oleh kebijakan bank.

            Aset yang dijaminkan tidak bisa dijual, disewakan, bahkan membuat perubahan yang diperlukan atas aset tersebut tidak bisa dilakukan sampai pinjaman tersebut dilunasi sepenuhnya beserta biaya biaya yang ada didalamnya.

            Perusahaan memang tidak ada niatan untuk menjual atau menyewakan aset tetapnya. Perusahaan memang akan menggunakan aset tetapnya sendiri.

            Namun dalam beberapa kondisi dan situasi tertentu, perusahaan mungkin perlu melakukan hal tersebut. Perusahaan mungkin ingin menjual atau sekedar menyewakan asetnya, tapi itu tidak bisa dilakukan karena asetnya masih berstatus jaminan bank.

            Bahkan misalnya perusahaan memerlukan gudang tambahan agar produksinya bisa meningkat, namun untuk memperluas gudang tambahan, mengupgrade kapasitas mesin atau yang lainnya yang bisa mengubah aktiva tetap yang dijaminkan, maka hal itu tidak bisa dilaksanakan.

            Dengan melihat tentang hipotek diatas, hipotik merupakan sebuah pilihan yang banyak diambil perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pendanaan jangka panjangnya. Fungsi pendanaan yang nanti akan dipakai untuk pengembangan usaha. Apapun bentuknya.

            Hipotik adalah leverage bagi perusahaan ? itu hal yang niscaya bisa terjadi.

            referensi : http://howded.com/id/pages/213501
            http://wardahcheche.blogspot.co.id/2014/04/hipotik.html

            Apa Itu Obligasi dan Definisi dan Keuntungannya

            Apa Itu Obligasi dan Definisi dan Keuntungannya


            Apa itu OBLIGASI ? Apa yang dimaksud dengan obligasi ?

            Obligasi adalah surat hutang. Surat utang yang bagaimana ?

            Pengertian Obligasi 

            Obligasi atau yang juga dikenal dengan istilah bond merupakan sertifikat atau surat berharga yang berisi tentang pengakuan atas hutang oleh penerbit obligasi kepadad investor (pemberi pinjaman).

            Pengertian obligasi adalah sertifikat atau surat berharga yang isinya adalah kontrak antara investor selaku pemegang obligasi dengan perusahaan penerbit obligasi yang menyatakan bahwa pemegang obligasi telah meminjamkan sejumlah dana kepada perusahaan penerbit obligasi.

            Perusahaan penerbit obligasi sebagai peminjam dana, berkewajiban untuk membayar sejumlah bunga secara berkala sesuai dengan tempo yang telah ditetapkan dan juga melunasi pokok pinjaman ketika tanggal jatuh tempo obligasi.

            Utang obligasi umumnya diterbitkan oleh pemerintah dan perusahaan swasta yang membutuhkan dana dari luar perusahaan.

            Kupon obligasi adalah tingkat bunga pinjaman obligasi yang harus dibayarkan oleh debitur kepada kreditur.

            Pada umumnya obligasi diterbitkan pada rentang waktu tertentu. Pinjaman obligasi umumnya berjangka waktu menengah - panjang. Rata rata obligasi di Indonesia memiliki jangka waktu 5 tahun dan yang paling lama 30 tahun.

            Obligasi adalah produk dari pasar modal. Bukan produk dari lembaga keuangan seperti bank atau lembaga keuangan bukan bank.

            Bank biasanya tidak bertanggungjawab terhadap semua tuntutan dan resiko yang muncul dari investasi obligasi. Obligasi tidak termasuk objek program penjaminan simpanan. Bank hanya menjadi agen penjual obligasi.

            Kesepakatan lain dalam obligasi bisa dicantumkan seperti pemegang obligasi atau adanya pembatasan upaya hukum yang dibisa diambil oleh penerbit obligasi.

            Obligasi adalah utang namun dalam bentuk sekuritas. Sama seperti saham, utang obligasi bisa dipindahtangankan. Obligasi bisa diperjual-belikan dipasar sekunder layaknya saham.

            Bagi penerbit, baik pemerintah ataupun perusahaan, obligasi merupakan opsi pendanaan yang menarik karena memiki jangka waktu yang relatif panjang dengan biaya yang relatif murah.

            Dari sudut investor, ketika berinvestasi obligasi. Akan terlihat mirip dengan investasi dideposito bank. Investor akan memperoleh bunga (kupon) secara berkala. Umumnya diberikan setiap tiga (3) bulan, enam (6) bulan atau satu (1) tahun sekali sampai dengan jangka waktu tempo yang telah ditentukan.

            Pengertian Obligasi Menurut Para Ahli

            Berk [2007:212]

            "Obligasi merupakan surat berharga yang diterbitkan (dijual) oleh perusahaan atau pemerintah untuk memperoleh dana dari investor dengan pemberian kompensasi berupa bunga yang dibayarkan berdasarkan perjanjian awal."

            Fahmi [2013:42]

            "Obligasi adalah surat berharga yang didalamnya tercantum berbagai hal yang menjelaskan tentang nilai nominal, tingkat kupon (suku bunga), nama penerbit, jangka waktu serta ketentuan ketentuan lain yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku yang dijual kepada publik."

            Tandelilin [2010:40]

            "Obligasi merupakan sekuritas berisi janji untuk memberi pembayaran tetap sesuai jadwal yang telah ditetapkan."

            Pratomo dan Nugraha [2009]

            "Obligasi merupakan surat hutang berjangka waktu lebih dari satu (1) tahun dengan tingkat suku bunga tertentu yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah untuk memperoleh dana dari masyarakat yang nantinya akan digunakan untuk pembiayaan perusahaan atau anggaran pemerintah."

            Yuliana dkk [2011]

            "Obligasi adalah surat tentang pengakuan hutang yang diterbitkan perusahaan atau pemerintah atau lembaga yang lain sebagai pihak yang berhutang. Memiliki nilai nominal dan kesanggupan dalam pembayaran bunga secara berkala dengan tingkat persentase atau bunga tertentu yang tetap."

            Frank J. Fabozzi

            "Obligasi merupakan jenis hutang atau surat pengakuan utang sebuah perusahaan atau pemerintah yang akan dibayar lunas ketika waktu jatuh tempo sebesar jumlah nominalnya. Penghasilan yang bisa diperoleh dari sebuah obligasi adalah tingkat bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi."

            Keuntungan Obligasi ?

            Perusahaan maupun investor akan mendapatkan keuntungan dengan dengan obligasi.

            Bagi perusahaan, obligasi jelas menguntungkan dengan mendapatkan sumber dana perusahaan yang akan diperlukan untuk kegiatan operasional maupun pengembangan ekspansi perusahaan.

            Obligasi dan saham sering menjadi pertimbangan utama manajemen keuangan dalam mendapatkan sumber dana perusahaan. Ada beberapa keuntungan ketika manajemen memutuskan untuk memilih menerbitkan obligasi daripada saham. Antara lain :
            • Penerbitan obligasi tidak mengganggu hak pengendalian pemegang saham karena pemegang obligasi statusnya adalah kreditur. Tidak mempunyai hak suara didalam perusahaan.
            • Obligasi bisa menghemat pajak. Bunga obligasi adalah beban perusahaan yang bisa menjadi pengurang pajak.
            • Earning Per Share (EPS) lebih tinggi karena tidak terdapat penerbitan saham baru.

            Keuntungan untuk Investor ?


            1. Bunga

            Obligasi memberikan pendapatan bunga untuk investornya. Bunga tersebut umumnya disebut dengan kupon obligasi. Ada 2 jenis kupon dalam obligasi. Fixed coupon (kupon tetap) dan floating coupon (kupon mengambang)

            Kupon obligasi umumnya lebih tinggi daripada bunga deposito bank.

            Perusahaan yang mengeluarkan obligasi tersebut berkewajiban membayar bunga kepada pemilik obligasi dari perusahaan tersebut. Karena pada dasarnya obligasi adalah SURAT UTANG.

            Karena obligasi adalah hutang, maka obligasi mempunyai privelage yang lain. Yakni menjadi prioritas pelunasan apabila jika dibandingkan dengan instrumen lain seperti saham.

            Walaupun obligasi adalah hutang. Namun pada kasus tertentu ada obligasi yang tidak memberikan bunga. Zero Coupon Bond namanya.

                           Baca juga : Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bond)

            2. Mudah dijual belikan.

            Obligasi mudah untuk diperjual-belikan atau diperdagangkan dipasar sekunder. Bursa Efek Indonesia (BEI) atau diluar BEI

            3. Capital Gain

            Capital gain merupakan keuntungan yang didapat dari selisih harga obligasi ketika obligasi yang dimiliki diperdagangkan. Contohnya, harga obligasi awal adalah 100 %, dan ketika obligasi tersebut akan dijual, harganya naik menjadi sebesar 120 %. Jika obligasi tersebut terjual, maka pemilik obligasi tersebut akan mendapatkan keuntungan sebesar 20 %.

            4. Dijadikan Agunan. Obligasi bisa dijadikan jaminan seperti obligasi negara.

            5. Aman. Obligasi termasuk investasi yang aman karena pembayaran bunga dan pokok pinjamannya telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
            contoh surat perjanjian obligasi

            Pihak yang Menerbitkan Obligasi

            Siapa saja yang bisa menerbitkan obligasi ?

            Tentu saja pihak yang membutuhkan uang. Dengan cara berhutang.

            Umumnya yang menerbitkan obligasi adalah perusahaan yang memerlukan tambahan uang untuk pengembangan usaha. Selain itu pemerintah juga bisa menerbitkan obligasi. Bahkan obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah lebih sering kita dengar.

            Berikut pihak pihak yang biasanya menerbitkan obligasi.
            • Pemerintah
            • Lembaga supranasional. Misalnya Bank Investasi Eropa
            • Lembaga pemerintahan. Umumnya disebut agency bonds
            • Sub-sovereign. Di Indonesia biasa disebut dengan SUN (Surat Utang Negara)
            • Perusahaan swasta
            • Spesial Purpose Vehicles. Sebuah perusahaan yang bertujuan khusus untuk menguasai aset tertentu. Tujuannya untuk penerbitan obligasi yang disebut Efek Beragun Aset 

            Jenis Jenis Obligasi

            Di Indonesia, jenis utang obligasi terdapat beberapa macam. Beberapa jenis obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah di Indonesia contohnya sebagai berikut :
            • Obligasi Rekap. Obligasi yang bertujuan untuk Program Rekapitalisasi Perbankan
            • Obligasi Ritel Indonesia. Obligasi yang bertujuan menutup defisit APBN. Obligasi ini bernominal kecil supaya bisa dibeli secara ritel.
            • Surat Utang Negara. Sama dengan Obligasi Ritel Indonesia, Tujuannya menutup defisit APBN
            • Sukuk atau Obligasi Syariah. Sama seperti Surat Utang Negara namun dengan berdasarkan pada prinsip syariah.

            Pada perusahaan swasta, ada beberapa jenis obligasi yang umum diterbitkan.
            • Secure and Unsecured Bonds, Secure bond merupakan obligasi yang terdapat jaminan aset perusahaan tertentu seperti tanah, pabrik, gedung. Sedangkan Unsecured bond merupakan obligasi yang diterbitkan dngan kredit umum oleh penerbit.
            • Term and Serial Bonds. Term bond adalah obligasi yang memiliki jangka waktu yang spesifik dimasa depan. Serial Bond merupakan obligasi yang dibayar dengan cara cicilan.
            • Registered and Bearer Bonds. Registered bond adalah obliglasi yang diterbitkan menggunakan nama dari pemiliknya. Bearer bond merupakan obligasi yang terdaftar/didaftarkan. Pemegang bearer bond harus menggunakan kupon dalam menerima pembayaran bunganya.
            • Convertible and Callable Bond. Convertible bonds merupakan obligasi yang bisa dikonversi menjadi saham biasa perusahaan. Callable bonds merupakan obligasi yang bisa ditarik dalam jumlah tertentu sebelum obligasi tersebut jatuh tempo.
            Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Investasi Obligasi
            Referensi: www.edukasisaham.co.id, https://binus.ac.id, cermati.com

            Dasar Dasar Keputusan Investasi

            Dasar Dasar Keputusan Investasi

            Dasar Keputusan Investasi - Apabila mendengar kata investasi, maka kata yang selalu mengiringi adalah kata return (keuntungan investasi) dan risk (risiko). Dua kata tersebut merupakan hal dasar dalam pengambilan keputusan investasi.

            Investasi merupakan sebuah upaya penempatan sejumlah dana untuk dikembangkan yang diharapkan akan mendatangkan keuntungan dimasa yang akan datang. Motivasi mengapa melakukan investasi sudah jelas, investor ingin mendapatkan return atau keuntungan dimasa depan.

            Menurut Tandelilin [2005] dasar dasar keputusan investasi bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain:
            1. Return (keuntungan)
            2. Risk (resiko)
            3. The Time Factor (faktor waktu)

            1. Return

            Mengapa orang melakukan investasi ?

            Tentu saja karena ingin mendapatkan keuntungan. Apabila sebuah investasi diperkirakan tidak menguntungkan. Maka tidak akan ada orang yang mau berinvestasi.

            Return adalah tingkat keuntungan yang diperoleh dari sebuah investasi. Return yang diinginkan dari sebuah investasi harus dibandingkan dengan kompensasi terhadap biaya peluang (opportunity cost) yang hilang dan resiko adanya perubahan nilai karena inflasi.

            Biaya peluang maksudnya adalah kesempatan mendapatkan keuntungan yang hilang karena telah memilih satu dari beberapa jenis investasi yang ada. Misalkan perusahaan memiliki kas sebesar Rp 1 Milliar. Ada opsi uang tersebut diinvestasikan kedalam deposito, saham, obligasi ataupun properti.

            Instrumen investasi yang mana yang memberikan keuntungan paling banyak dalam tempo yang sama?

            Umumnya, sumber return investasi biasanya berupa Yield dan Capital Gain.

            • Yield

            Yield adalah pendapatan yang diperoleh oleh investor secara rutin (periodik).

            Misalnya, perusahaan yang berinvestasi pada obligasi, maka yield-nya adalah pembayaran bunga atau kupon obligasi yang akan diterima dalam 3 bulan atau 6 bulan sekali bahkan 1 tahun sekali.

            Atau jika berinvestasi dalam instrumen saham, maka yield-nya berupa deviden yang diperoleh 1 tahun sekali. Tergantung pada kebijakan deviden perusahaan.

            • Capital Gain

            Capital Gain adalah naik turunnya nilai investasi. Umumnya instrumen investasi sekuritas. Contohnya harga saham. Ketika saham dibeli dengan harga X perlembar. Dan kemudian saham tersebut dijual dengan harga diatas harga X. Maka ada selisih yang akan menjadi keuntungan investor. Namun juga sebaliknya, apabila dijual dibawah harga X, maka investor akan mengalami kerugian.

            Dalam kontek keputusan investasi, perlu dibedakan antara keuntungan yang telah terealisasi (realized return) dengan keuntungan yang diharapkan (expected return).

            1.a. Realized Return (keuntungan yang telah terealisasi)

            Realized return atau return yang terealisasi adalah return yang telah terjadi. Keuntungan yang telah diperoleh investor dimasa lalu, diperiode sebelumnya.

            Perhitungan realized return menggunakan data historis masa lalu. Realized return dipakai untuk menjadi salah satu alat ukur kinerja dari sebuah investasi perusahaan.

            Return ini bisa dijadikan sebagai dasar untuk menentukan tingkat expected return dan resiko sebuah investasi yang akan datang.

            1.b. Expected Return (ekspektasi keuntungan)

            Expected return atau ekspektasi keuntungan adalah keuntungan yang diharapkan akan didapatkan oleh investor dari sebuah investasi yang dilakukan. Expected return adalah harapan. Keuntungan belum diperoleh. Belum terjadi.

            Tingkat keuntungan yang diinginkan ini bisa dipengaruhi oleh sejauh mana prospek investasi perusahaan di waktu yang akan datang.

            2. Risk (Resiko)

            Ketika berinvestasi selain mengharapkan return tertentu investor juga harus menanggung tingkat risiko.

            Dalam konteks manajemen investasi risiko merupakan penyimpangan/ perbedaan antara return yang diharapkan dengan return yang benar-benar diterima oleh investor (return aktual). Kenyataan yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Resiko merupakan sebuah konsekuensi yang sangat tidak menguntungkan dari sebuah investasi.

            Resiko investasi bisa menjadi sebuah kerugian. Semua instruman investasi pasti memiliki resiko. Baik itu resiko kecil atau resiko besar. Untuk itu dalam keputusan investasi, selain return, perhitungan resiko menjadi hal yang wajib dilakukan.

            Jadi, pentingnya memahami sebuah resiko dalam keputusan investasi adalah untuk bisa mengantisipasi dan menghindari atau sekedar meminimalkan kemungkinan kerugian yang bisa terjadi pada investasi yang dijalankan.

            Sudah menjadi idiom umum bahwa high risk high return. Setiap investasi yang menghasilkan return yang tinggi, maka semakin tinggi pula resikonya.

            Secara umum, resiko dalam konsep keputusan investasi bisa digolongkan menjadi dua resiko, Resiko sistematis dan resiko tidak sistematis. Apa itu resiko sistematis dan resiko tidak sistematis ?

            2. A. Systematic Risk (Resiko Sistematis)

            Resiko sistematis adalah resiko yang bersifat makro. Berhubungan dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara keseluruhan dipasar secara umum. Memberikan dampak dihampir seluruh perusahaan yang ada di pasar. Resiko sistematis bisa berakibat pada return investasi yang bisa berubah-ubah.

            Resiko sistematis ini cenderung sulit untuk dihindari. Risiko sistematis ini biasanya berupa resiko suku bunga, resiko pasar, resiko finansial, risiko bisnis, resiko inflasi, resiko politik, resiko nilai tukar,resiko likuiditas.

            # A.1. Resiko Suku Bunga

            Resiko suku bunga adalah resiko yang muncul akibat adanya perubahan tingkat suku bunga rata-rata. Tingkat suku bunga tabungan dan tingkat suku bunga pinjaman, Umumnya resiko ini mempengaruhi instrumen investasi saham, obligasi (bunga mengambang), deposito bahkan properti.

            Misalkan, harga saham akan mengalami penurunan apabila tingkat suku bunga meningkat. Contohnya pada saham, jika suku bunga naik, maka nilai saham akan turun. Hal ini bisa terjadi karena return investasi yang berhubungan dengan suku bunga juga akan mengalami kenaikan, seperti deposito contohnya. Situsasi tersebut bisa membuat investor yang berinvestasi saham akan melepas sahamnya dan mengalihkan dananya kedalam deposito.

            # A.2. Resiko Pasar

            Resiko pasar adalah risiko yang berupa pengaruh transaksi pasar yang fluktuatif secara keseluruhan. Resiko ini bisa mempengaruhi return investasi menjadi berubah-ubah. Fluktuasi kondisi pasar ini bisa diakibatkan oleh kondisi seperti krisis ekonomi, perubahan kebijakan pemerintah, perubahan akibat adanya teknologi baru dan lain sebagainya.

            # A.3. Resiko Bisnis

            Resiko bisnis adalah resiko yang erat kaitannya dengan karakteristik dari sebuah jenis industri tertentu. Resiko ini bisa dipengaruhi oleh persaingan bisnis yang dihadapi makin ketat, harga produk yang tidak terkontrol dan lain sebagainya.

            Industri CPO misalnya, banyak perusahaan yang berinvestasi membuka lahan untuk ditanami sawit, makin banyak perusahaan yang bersaing menanam sawit, sehingga supplay melimpah yang bisa menyebabkan harga komoditas ini berfluktuasi dan anjlok dipasar dunia sehingga membaut industri komoditas ini menjadi kurang menguntungkan.

            # A.4. Resiko Inflasi

            Katakanlah sebuah instrumen investasi bisa menghasilkan return sebesar 5 persen selama 1 tahun, namun dalam 1 tahun tersebut terjadi inflasi sebesar 5 persen. Maka investasi tersebut bisa dibilang tidak menghasilkan apa-apa.

            Parahnya lagi seandainya tingkat inflasi ternyata diatas return investasi yang ditanamkan. Maka hasilnya adalah sebuah kerugian. oportunity cost (biaya peluang)-nya tinggi.

            Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum. Adanya inflasi membuat daya beli masyarakat berkurang. Berkurangnya daya beli membuat penjualan menurun yang akan menyebabkan pendapatan perusahaan menurun.

            # A.5. Resiko Nilai Tukar (Exchange Rate Risk/Currency Risk)

            Resiko nilai tukar adalah risiko yang muncul karena terjadi perubahan nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang dari negara lain. Perusahaan ekspor-impor mungkin paling terpengaruh. Resiko ini membuat return yang diterima menjadi lebih kecil nilainya dari return yang diharapkan.

            # A.6. Resiko Politik

            Resiko politik atau country risk adalah resiko yang berhubungan dengan kondisi politik negara, stabilitas ekonomi antar negara, dan bahkan kondisi tingkat keamanan.

            Kestabilan adalah kunci utama, semakin tidak stabil kondisi perpolitikan sebuah negara, semakin besar resiko untuk berinvestasi dinegara tersebut.

            Kebijakan tentang usaha rokok misalnya. Kenaikan cukai rokok, aturan pembatasan pemasaran  dan sosialisasi efek negatif rokok oleh negara mempengaruhi industri rokok. Hal tersebut bisa mengakibatkan pendapatan banyak industri rokok menurun. Dari hulu sampai hilir.

            2.B. Unsystematic Risk (Resiko non Sistematis)

            Resiko tidak sistematis merupakan resiko yang berkaitan dengan adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada perusahaan tertentu secara individual. Cakupan resikonya hanya pada kondisi mikro yang hanya pada return investasi terhadap perusahaan individual tertentu saja.

            Resiko tidak sistematis ini masih bisa dihindari. Resiko tidak sistematis ini contohnya resiko finansial, resiko likuiditas

            # B.1. Resiko Finansial

            Resiko finansial atau resiko keuangan berhubungan dengan struktur modal perusahaan yang digunakan dalam mendanai aktivitas perusahaan.

            Resiko finansial kemungkinan akan muncul apabila perusahaan mencari sumber dana dari pembayaaan utang. Baik berupa utang obligasi ataupun hipotek. Semakin besar utang dan bunga, maka semakin besar pula resiko gagal bayar yang membayangi.

            # B.2 .Resiko Likuiditas (Liquidity Risk)

            Liquidity risk adalah resiko yang berhubungan dengan tingkat kesulitan dalam mencairkan portofolio investasi atau menjual sahamnya kepihak lain karena sedikit atau tidak ada yang berminat untuk membeli sekuritas tersebut.

            Kecepatan sebuah sekuritas yang diperdagangkan dipasar sekunder merupakan indikator resiko ini. semakin cepat sebuah sekuritas terjual maka semakin kecil resikonya.

            Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu sekuritas yang diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Semakin cepat suatu sekuritas diperdagangkan, maka semakin likuid sekuritas tersebut. Resiko ini bisa juga didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek atau jatuh tempo dengan menggunakan aset yang ada.

            3. The Time Factor (Faktor Waktu)

            The time factor atau faktor waktu dalam berinvestasi sangat berpengaruh dalam menjalankan investasi. Ada beberapa alternatif jangka waktu dalam melakukan investasi. Jangka pendek, menengah atau jangka panjang.
            Jangka waktu investasi yang dipilih bisa berpengaruh pada perilaku investor terhadap kegiatan investasinya. Lama tidaknya investasi bisa mempengaruhi seberapa besar resiko investasi yang membayangi. 

            Waktu investasi juga mempertimbangkan seberapa cepat pengembalian atas investasi yang dikeluarkan kembali lagi seperti semula. Semakin cepat pengembalian dan returnnya, maka investasi tersebut semakin layak untuk dijalankan.

            Time value of money (nilai waktu dari uang) juga sangat diperhitungkan dalam pertimbangan keputusan investasi. Uang Rp 10 juta saat ini, nilainya belum tentu sama dengan Rp 10 juta 5 tahun yang akan datang. Inflasi.

            Tingkat inflasi memiliki keterkaitan yang erat dengan nilai waktu daripada uang. Tentu inflasi menjadi sangat diperhitungkan dalam keputusan investasi.

            Misalnya. Dulu, 15 tahun yang lalu uang Rp 1000 sudah bisa membeli Indomie goreng. Tapi saat ini dengan nominal yang sama tidak bisa membeli barang yang sama. Uang dengan nominal yang sama, belum tentu memiliki nilai yang sama pada masa yang akan datang.

            Hubungan Return dan Risk

            Aturan umum investasi : High risk high return dan juga sebaliknya low risk low return.

            Setuju tidak setuju memang begitulah kecenderungan umumnya,

            Return adalah motif utama mengapa seseorang investor melakukan investasi. Hal tersebut sangatlah wajar. Tetapi, Resiko. sebuah hal lain yang bertolak belakang dengan return, yang selalu mengikut alur investasi harus diperhitungkan. 

            Semakin tinggi resiko investasi, semakin tinggi juga tingkat pengembalian investasinya. Walaupun pada kenyataannya, semua investor berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan return investasi yang tinggi dengan resiko seminimal mungkin.

            Maka untuk itulah fungsi manajemen keuangan diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara risk dan return yang menjadi dasar dalam keputusan investasi,

            Referensi: http://asriyaqien.blogspot.co.id , pscychologymania.com

            Obligasi Tanpa Bunga Zero Coupon Bond

            Obligasi Tanpa Bunga Zero Coupon Bond

            Sebagai sebuah utang. Utang obligasi selalu disertai dengan bunga (kupon). Bunga itulah yang bisa menjadi penarik minat investor agar bersedia untuk membeli obligasi atau meminjamkan uangnya pada perusahaan.

            Terdapat beberapa jenis bunga yang bisa ditawarkan pada setiap obligasi. Mulai dari fixed rate (bunga tetap), floating rate (bunga mengambang) maupun kombinasi keduanya.

            Umumnya bunga obligasi akan dibayarkan dalam 3 bulan sekali, ada juga yang dibayarkan 6 bulan sekali bahkan 1 tahun sekali.
            Misalkan sebuah perusahaan menerbitkan obligasi dengan rentang waktu 5 tahun. Tingkat suku bunga tetap sebesar 10 persen selama 1 tahun pertama. Dan pada tahun berikutnya menggunakan bunga mengambang satu persen diatas bunga deposito bank.

            Maka pembeli obligasi tersebut akan memperoleh keuntungan bunga (return) sebesar 10 persen pada tahun pertama. Dan pada tahun berikutnya akan memperoleh return yang berubah-ubah menyesuaikan dengan besar kecilnya bunga deposito bank.

            Tetapi, pada kasus lain terdapat obligasi yang diterbitkan tanap adanya kupon bunga sama sekali.

            Perusahaan penerbit hanya membayarkan pokok utang obligasi ketika jatuh tempo. Obligasi jenis ini disebut dengan Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bond)

            Pengertian Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bond)

            Mungkin anda bertanya, mungkinkah sebuah utang obligasi tanpa bunga bisa laku terjual dipasaran?

            Apakah investor mau membeli obligasi yang tidak memberikan bunga sama sekali?

            Darimana investor akan mendapatkan hasil dari investasi obligasi seperti ini?

            Pertanyaan yang kerap muncul ketika pertama kali mendengar tentang obligasi tanpa bunga.

            Investor yang membeli obligasi tanpa bunga ini sampai obligasi jatuh tempo memang tidak akan pernah mendapatkan bunga dari penerbit obligasi. 

            Misalnya obligasi yang diterbitkan dalam rentang waktu jatuh tempo 15 tahun. Maka dana investor yang membeli obligasi tersebut akan mengendap selama 15 tahun diperusahaan penerbit. Kecuali investor tersebut menjual kembali obligasinya ke pasar sekunder.

            Ketika obligasi sudah waktunya jatuh tempo, investor hanya akan mendapatkan uangnya kembali tanpa adanya bunga yang menyertainya. Darimana investor mendapatkan keuntungan ?

            Eits, jangan salah. Obligasi tanpa bunga ini bukannya tanpa keuntungan. Obligasi ini juga memberikan keuntungan bagi pemegang obligasi. Hanya saja tidak berupa bunga (kupon obligasi).

            Keuntungan membeli obligasi jenis ini adalah berupa uang cash yang nanti akan dibayar dikemudian hari. Keuntungan pemegang obligas terdapat pada selisih dari harga beli obligasi dengan harga jual obligasinya.

            Pada saat penerbitan, zero coupon bond ditawarkan dengan harga yang lebih rendah daripada nilai nominalnya. dengan kata lain. Harga awal obligasi ini mendapat diskon yang tinggi.

            Ketika awal membeli, calon investor akan membeli obligasi dengan harga diskon. Harga yang lebih rendah dari harga nominal obligasi. Dan ketika obligasi sudah jatuh tempo, maka investor akan mendapatkan pembayaran secara penuh.

                      Baca juga Hutang Jangka Panjang, Keuntungan dan Kerugiannya

            Ilustrasinya begini.

            Perusahaan PT X menerbitkan zero coupon bond dengan nominal sebesar Rp 1 Trilliun. Masa jangka waktu jatuh tempo obligasi selama 10 tahun. Obligasi ini akan dijual pada harga 70 persen,

            Dengan penawaran harga obligasi tersebut. Investor yang akan membeli obligasi PT X tidak perlu untuk membayar sebesar 1 trilliun. Tidak perlu 100 persen harga nominal obligasi.

            Misalnya investor ingin membeli obligasi PT X sebanyak 100 Miliar, maka investor tersebut hanya membayar 70 persen saja. Cukup membayar Rp 70 Miliar. Jika ingin membeli semuanya Rp 1 Trilliun maka cukup membayar Rp 700 Milliar saja. Tidak perlu membayar penuh sebanyak Rp 1 Trilliun.

            Walaupun investor tersebut hanya membayar sebesar Rp 700 Miliar. Namun ketika obligasi tersebut jatuh tempo 10 tahun kemudian. Investor tersebut akan menerima pembayaran penuh pokok obligasi sebesar Rp 1 Trilliun.

            Jadi selama 10 tahun tersebut. Uang investor akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 300 Miliar.

            Dari sudut pandang investor. Zero coupon bond ini merupakan sebuah investasi jangka panjang yang pengembalian investasinya (return of invesment) tidak bisa diperoleh dengan cepat. Apabila investor obliasi tersebut ingin segera menghasilkan, dan ingin dananya segera kembali, maka satu satunya jalan adalah menjual obligasi tersebut dipasar sekunder.

            Harga obligasi zero coupon bond umumnya akan naik dari waktu kewaktu hingga mendekati jatuh tempo obligasi. Disinilah area keuntungan yang bisa dinikmati oleh investor. Sedangkan bagi perusahaan penerbit obligasi, walaupun nominal obligasi yang ditawarkan mencapai Rp 1 Trilliun. Perusahaan hanya akan mendapatkan dana tunai sebesar Rp 700 Miliar saja.

            Itupun masih belum dipotong biaya biaya yang muncul dalam rangka penerbitan obligasi. Keleibihan bagi penerbit obligasi tanpa bunga adalah bahwa perusahaan penerbit tidak akan dibebankan bunga obligasi yang harus dibayar 3 atau 6 bulan sekali seperti obligasi pada umumnya.

            Perusahaan penerbit hanya akan memikirkan bagaimana caranya ketika obligasi sudah jatuh tempo 10 tahun yang akan datang. Dan harus ada uang tunai sebesar Rp 1 Trilliun untuk melunasi pokok utang obligasi tersebut.

            Semoga artikel ini bisa membantu anda. Terima kasih.
            Referensi : economy.okezone.com