Tampilkan postingan dengan label Dividen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dividen. Tampilkan semua postingan
Pengertian Kebijakan Dividen

Pengertian Kebijakan Dividen

Pengertian Dividen

Pengertian dividen adalah pembagian laba perusahaan yang diterima para pemegang saham sesuai dengan persentase kepemilikiannya yang berasal dari keuntungan dari hasil operasi perusahaan selama suatu periode.

Dividen adalah BAGIAN keuntungan dari perusahaan yang diputuskan untuk dibagikan atau didistribusikan kepada para pemilik saham (common stock). Dalam banyak kasus, tidak semua keuntungan yang dihasilkan perusahaan dibagikan semua kedalam dividen.

Ada sebagian sebagian yang akan digunakan kembali untuk membiayai kegiatan dan pengembangan usaha perusahaan. Ini disebut dengan Laba Ditahan (retained earning). Besar kecilnya tergantung pada kebijakan dividen dan hasil RUPS perusahaan.

Dividen adalah hak dari pemegang saham. Dividen hanya akan diperoleh jika perusahaan menghasilkan cukup laba untuk dibagikan dan apabila direksi perusahaan menilai perusahaan sudah layak mengumumkan pembagian dividen.

Apabila perusahaan telah memutuskan membagi laba, maka semua pemilik saham akan mendapatkan hak yang sama sesuai persentase kepemilikan sahamnya. Namun pembagian dividen pemilik saham jenis preferen akan lebih diprioritaskan dibandingkan pemilik saham biasa.

Umumnnya macam-macam jenis dividen yang biasa dibagikan oleh perusahaan berbentuk seperti berikut :
kebijakan dividen

1. Dividen Kas (Cash Dividend)

Pembayaran dividen dalam bentuk uang kas. Dibandingkan dengan jenis dividen lain, deviden kas lebih sering digunakan oleh perusahaan dan umumnya juga lebih disukai oleh para pemilik saham.

2. Dividen Aktiva selain Kas (Property Dividend)

Dividen yang dibagikan dalam bentuk barang atau aktiva selain kas. Dividen properti ini yang dibagikan adalah bagian dari aktiva yang tidak akan mengganggu keberlangsungan hidup bisnis perusahaan. Dan barangnya bisa dibagi rata kepada para pemegang saham.

Pemilik saham akan menerima dengan nilai sebesar harga pasar dari aktiva yang dibagikan tersebut.

3. Dividen Utang (Scrip Dividend)

Dividen utang adalah janji tertulis untuk membayar jumlah deviden kas tertentu kepada pemilik saham dikemudian hari. Janji ini umumnya berupa surat promes. Deviden utang ini bisa terjadi apabila laba perusahaan mencukupi namun saldo kas perusahaan tidak cukup untuk membayarnya.

4. Dividen Likuidasi (Liquidating Dividend)

Dividen likuidasi adalah deviden yang muncul ketika manajemen direksi ingin melikuidasi usahanya dan mengembalikan seluruh aktiva bersih yang tersisa kepada pemilik saham dalam bentuk kas tunai.

5. Dividen Saham (Stock Dividend)

Dividen saham adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham yang pembagiannya sesuai dengan persentase kepemilikan saham. Tidak berbentuk uang kas tunai.

Jumlah saham yang beredar akan meningkat namun kapitalisasi pasar besarnya tetap tidak berubah karena setiap penambahan saham baru diikuti dengan penurunan nilai saham. Sedikit banyak mirip dengan stock split atau pemecahan saham. Tujuannya untuk bisa mempertahankan tingkat modal perusahaan.

Pengertian Kebijakan Dividen

Pengertian kebijakan dividen adalah keputusan direksi apakah laba yang dihasilkan perusahaan pada akhir periode dibagikan kepada para pemilik saham (dividen) atau laba tersebut ditahan sebagai penambah modal perusahaan yang akan digunakan dalam kegiatan, atau investasi pengembangan perusahaan dimasa mendatang.

Kebijakan dividen selalu berkaitan langsung dengan keputusan pendanaan perusahaan.

Kebijakan dividen adalah salah satu fungsi manajemen keuangan yang berkaitan erat dengan struktur modal perusahaan.

Jadi ketika dalam sebuah perusahaan berhasil mendapatkan keuntungan. Ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan atas keuntungan yang diraih tersebut :
  1. Laba dibagikan kepada para pemegang saham (dividen)
  2. Laba digunakan kembali untuk kegiatan dan ekspansi usaha (laba ditahan)
  3. Laba dibagi antara dividen dan sebagian lagi digunakan untuk laba ditahan.
Apabila manajemen perusahaan mengambil laba dibagikan sebagai dividen, maka sumber pendanaan internal akan berkurang. Laba ditahan berkurang.

Demikian juga sebaliknya, apabila perusahaan memilih opsi untuk tidak membagikan deviden, maka dana internal perusahaan akan membesar.

Laba ditahan adalah salah satu sumber pendanaan perusahaan yang sangat penting untuk digunakan dalam membiayai pertumbuhan perusahaan. Semakin besar laba ditahan, maka akan semakin kuat struktur modal dan posisi keuangan perusahaan.

Semua langkah yang diambil dalam kebijakan dividen adalah bahwa setiap keputusan yang diambil harus tetap memperhatikan tujuan utama dari perusahaan, yaitu kesejahteraan pemilik perusahaan dan meningkatkan nilai dari perusahaan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kepentingan para pemegang saham, kepentingan usaha perusahaan dan bahkan kepentingan masyarkat sekitar dan pemerintah.

Tipe Kebijakan Dividen

tipe kebijakan dividen

#1. Kebijakan Dividen Stabil

Jenis kebijakan dividen yang stabil adalah jumlah nominal dividen yang dibayarkan tetap disetiap periodenya.

Nominal pembayaran dividen tidak akan naik dan turun. Stabil diangka yang sama.

Alasan perusahaan yang melakukan kebijakan dividen stabil ini adalah untuk menciptakan kesan terhadap pemegang saham (investor) bahwa pembayaran dividen yang stabil mengindikasikan kinerja perusahaan juga stabil dari tahun ketahun.

Walaupun perusahaan secara akuntansi mengalami kerugian, pemegang saham akan tetap menerima dividen dengan jumlah sama seperti tahun sebelumnya.

#2. Kebijakan Dividen Rasio Tetap

Maksud dari kebijakan dividen rasio yang tetap adalah bahwa dividen dibagikan berdasarkan rasio yang tetap disetiap periodenya.

Besar kecil jumlah nominal dividen yang dibagikan tidak sama dari tahun ketahun. Tergantung pada laba yang dihasilkan.

Misalnya, apabila perusahaan menetapkan dividen ratio sebesar 40 persen dari laba bersih yang dihasilkan.

Maka setiap tahun, dividen yang dibagikan sebesar 40 persen dari laba bersih perusahaan. Setiap tahun, laba yang dihasilkan jumlahnya tentu berbeda beda. Kadang naik kadang turun.

Maka jumlah nomina dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham akan berbeda beda setiap tahunnya yang diambilkan dari 40 persen dari laba yang dihasilkan.

#3. Kebijakan Dividen Fleksibel

Pada tipe kebijakan dividen ini, besar kecil dividen yang dibayarkan setiap tahunnya akan disesuaikan dengan kondisi finansial perusahaan.

Setiap waktu perusahaan akan selalu mengalami perubahan, baik kondisi internal maupun eksternal. Untuk itu, dividen yang dibagikan akan mengikuti perkembangan kondisi perusahaan yang berbeda beda setiap tahunnya.

Bahkan apabila kondisi keuangan perusahaan dirasa tidak memungkinkan, maka dividen tidak akan dibayarkan.

#4. Kebijakan Dividen Residual

Tipe kebijakan dividen residu adalah dividen dibayarkan hanya apabila ada laba yang tersisa setelah perusahaan melakukan investasi.

Apabila laba yang diinvestasikan kembali tidak tersisa, maka tidak ada pembagian dividen.

Jadi laba yang dihasilkan akan digunakan untuk investasi, baru setelah investasi dilakukan dan ternyata masih ada sisa laba, maka sisa tersebut dibagikan dalam bentuk dividen.

Biasanya, tipe investor yang senang dengan kebijakan dividen residual ini adalah investor jangka panjang yang tidak mengharapkan dividen, namun lebih mengharapkan perkembangan perusahaan.

#5. Kebijakan Dividen Rendah + Ekstra

Maksudnya adalah Kebijakan dividen yang dibayarkan secara rutin disetiap periode dengan jumlah yang rendah.

Ketika kondisi laba normal, dividen yang dibagikan akan tetap rendah.

Namun walaupun ditetapkan rendah, ketika perusahaan berhasil meraih laba yang tinggi, perusahaan akan menambah "ekstra" dividen tersebut.

Penambahan dividen ekstra ini biasanya akan direspon baik oleh pasar dan harga saham perusahaan mengalami kenaikan.

Pengumuman Dividen 

Pengumuman dividen adalah sebuah informasi yang sangat direspon pasar. Pengumuman laba dan pengumuman dividen sering digunakan manajer perusahaan untuk memberikan informasi bahwa perusahaan tersebut berprestasi dan mempunyai prospek yang cerah.

Bahkan menurut pendapat Aharony dan Swary [1980] dalam Nurhidayati [2006] menyatakan bahwa informasi pengumuman dividen lebih bernilai daripada pengumuman informasi laba (earning) perusahaan.

Ada anggapan bahwa dengan adanya pembayaran dividen yang besar ada kecenderungan nilai saham perusahaan akan meningkat. Hal ini adalah anggapan investor yang melihat bahwa perusahaan tersebut mampu untuk membagikan keuntungan.

Namun pembayaran dividen yang besar juga berdampak pada kemampuan modal perusahaan untuk melakukan pengembangan usaha. Usaha yang tidak berkembang akan menyebabkan turunnya nilai saham perusahaan.

Pada kondisi pasar modal yang sempurna. Penundaan membayar dividen kepada para pemilik saham yang bertujuan untuk melakukan pengembangan usaha dan investasi yang menguntungkan akan berdampak pada kenaikan nilai saham.

Sepanjang perusahaan mempunyai rencana pengembangan dan investasi yang returnnya meyakinkan. Perusahaan akan menggunakan laba yang dihasilkan tersebut untuk mendanai rencananya.

Apabila terdapat kelebihan laba yang digunakan, maka kelebihan laba tersebut akan dibagikan kepada para pemegang saham. Namun apabila tidak ada kelebihan laba maka tidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham.

Walaupun pada kenyataannya, ada sejumlah perusahaan yang membayar dividen dengan stabil dan cenderung menghindari pengurangan dividen yang dibayarkan. Hanya karena manajemen ingin memperlihatkan bahwa perusahaannya memiliki kemampuan menghasilkan laba yang besar dan memiliki prospek yang bagus yang mampu membayar deviden kepada para pemegang sahamnya.

TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN

TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN

Teori Kebijakan Dividen - Dividend Policy atau kebijakan dividen adalah keputusan perusahaan yang berhubungan dengan pembayaran dividen oleh perusahaan. Apakah laba yang dihasilkan dibagikan kepada pemegang saham atau ditahan untuk kebutuhan pengembangan perusahaan diperiode mendatang.

Setidaknya ada 5 teori kebijakan dividen (teori tentang preferensi pemegang saham mengenai dividen) sebagai berikut :
    teori kebijakan dividen
    5 teori kebijakan dividen

    1. Teori Dividen Tidak Relevan [Irrelevancy Theory]

    Teori dividen tidak relevan ini ditemukan oleh Modigliani and Miller [MM].

    Menurutnya, nilai sebuah perusahaan ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (Earning Before Interest and Tax) dan kelas resiko perusahaan.

    Nilai perusahaan TIDAK DITENTUKAN oleh persentase laba yang dibagikan kepada pemilik saham dalam bentuk dividen.

    Jadi teori dividen tidak relevan menyatakan bahwa pembayaran dividen TIDAK BERPENGARUH terhadap harga saham atau nilai perusahaan. Tidak relevan.

    Nilai perusahaan hanya bisa dipengaruhi oleh bagaimana cara perusahaan dalam mengelola aset yang dimiliki agar menghasilkan laba yang diinginkan dan mengelola resiko-resiko bisnis yang ada.

    # Asumsi Teori Tidak Relevan

    Modigliani dan Miller menyusun teori ini berdasarkan beberapa asumsi berikut :
    1. Pasar modal sempurna. semua investor bersifat rasional. 
    2. Tidak ada investor besar yang bisa membuat harga saham bisa terpengaruh
    3. Tidak ada biaya emisi dalam penerbitan saham baru perusahaan
    4. Tidak ada pajak penghasilan perusahaan atau pajak perseorangan
    5. Kebijakan investasi sebuah perusahaan tidak akan berubah
    6. Pemegang saham tidak peduli apakah kemakmuran meningkat karena capital gain atau karena dividen.
    7. Manajer perusahaan dan pemegang saham mempunyai infomasi yang sama mengenai investasi perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga tidak ada biaya untuk mendapatkan informasi.
    Teori tidak relevan dari MM ini banyak dikritik oleh banyak ahli.

    Para ahli menentang karena banyak asumsi-asumsi yang dipakai dalam teori dividen tidak relevan ini tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Seperti :
    1. Tidak ada pasar modal yang sempurna. 
    2. Banyak investor besar yang bisa menjual atau membeli saham dalam skala yang masif yang bisa mempengaruhi harga saham perusahaan
    3. Terdapat sejumlah biaya emisi seperti biaya penerbitan saham baru, biaya broker atau biaya transfer yang berhubungan dengan sekuritas perusahaan.
    4. Pajak penghasilan atau pajak perseorangan hampir selalu ada disetiap negara
    5. Kebijakan investasi perusahaan bisa berubah ditengah perjalanan menyesuaikan dengan kondisi yang ada
    6. Pemegang saham tentu sangat concern dan peduli dengan darimana pendapatan yang akan dia peroleh, dari dividen atau capital gain. Ini juga berhubungan dengan strategi dari masing-masing investor. Tidak semua investor suka dengan capital gain, ada investor yang lebih suka pembagian dividen yang tinggi. Begitu juga sebaliknya.
    7. Manajer dan investor belum tentu memiliki informasi yang sama tentang perusahaan. Manajer umumnya mengetahui informasi lebih rinci dan detail sehingga timbul asimetri informasi. 

    2. Teori Dividen yang Relevan [The Bird in the Hand]

    Teori dividen yang relevan atau yang lebih dikenal dengan istilah the bird in the hand ditemukan oleh Gordon and Lintner.

    Pernah mendengar istilah the bird in the hand atau burung ditangan sebelumnya ?
             *ps: yang cowok dilarang berfikir negatif ya :)
    Satu burung ditangan lebih berharga daripada seribu burung yang ada diudara. Itulah yang ingin disampaikan oleh teori ini.

    Burung ditangan yang dimaksud adalah dividen, dan seribu burung yang ada diudara adalah capital gain.

    Ya, teori ini lebih banyak berbicara mengenai return investasi saham yang bisa berupa dividen dan capital gain.

    Yang dimaksud capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga jual saham yang lebih tinggi daripada harga beli saham.

    Teori ini menyatakan bahwa dividen lebih memiliki kepastian daripada "seribu" capital gain diudara.

    Dividen lebih bisa diprediksi.

    Sedangkan capital gain dinilai cenderung didapat dari hasil spekulasi karena harga saham tiap saat bisa berubah.

    Pada teori ini investor lebih menyukai mendapatkan dividen.

    Karena dinilai lebih memiliki kepastian dari capital gain.

    Dividen memiliki resiko yang lebih kecil.

    Manajemen dapat mengontrol dividen namun tidak bisa mengontrol/mendikte harga saham dipasar.

    Investor tidak menyukai capital gain karena ketidakpastian yang lebih tinggi.

    Dengan mengharapkan capital gain, nilai saham naik turun. Berfluktuatif.

    Bisa dengan mudah menghasilkan.

    Juga bisa dengan mudah mendapatkan kerugian.

    Investor belum tentu bisa menangkap seribu atau bahkan satu burungpun diudara.

    Teori ini dianut dan disukai oleh tipe long tern investor.

    Loyal dan cenderung setia kepada satu perusahaan dengan prinsip pembayaran dividen adalah komitmen perusahaan terhadap pemegang saham yang setia. Investor menyukainya karena bisa meningkatkan kemakmurannya.

    Mungkin akan muncul pertanyaan...

    Bagaimana jika satu burung yang ada ditangan yang diharapkan dan diyakini sangat berharga tersebut ternyata mengecewakan ?

    Bagaimana jika saham yang dipilih ternyata tidak memberikan dividen seperti yang diharapkan ? Bagaimana jika ternyata perusahaan mengalami kerugian ?

    Apabila perusahaan mengalami kerugian, maka bukan hanya investor yang mengharapkan dividen yang kecewa.

    Investor yang mengharapkan capital gain pun juga mengalami kerugian yang sama.

    Harga jual kembali saham akan jatuh, bukan capital gain yang didapat, melain kan capital loss (kerugian harga jual saham lebih rendah dari harga beli saham).

    Kelebihan teori bird in the hand adalah apabila perusahaan membayarkan dividen lebih tinggi, maka nilai perusahaan akan semakin tinggi. Harga saham semakin naik.

    Kelemahannya, apabila dividen yang dibayarkan tinggi, investor akan dikenakan pajak yang tinggi juga.

    Ya memang semakin besar pendapatan maka semakin tinggi juga pajak yang harus dibayarkan. Hal yang normal sebenarnya.

    # Penentang Teori Bird in the Hand

    Modigliani and Miller [MM] pencetus teori dividen tidak relevan menjadi penentang teori ini.

    Hal ini jelas karena dalam teori konsep MM, teori bird in the hand adalah kebalikan dari teori dividen tidak relevan yang mereka ciptakan. 

    Dalam teorinya MM menyatakan dividen tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan.

    Sangat bertentangan dengan teori bird in the hand yang menganggap dividen sangat berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

    Bahkan MM menyebut teori ini dengan istilah "The Bird in the Hand Fallacy". 

    MM mengklaim telah melakukan studi bahwa pemegang saham tidak peduli apakah return yang didapatkan berupa dividen saat ini atau mendapatkan capital gain dimasa depan.

    MM menambahkan pada akhirnya pemegang saham akan kembali menggunakan dividen yang diterima dengan menginvestasikan kembali pada perusahaan yang sama atau paling tidak mempunyai risiko yang hampir sama.

    Kenaikan dividen tidak bisa mereduksi resiko perusahaan. Karena akan ada kemungkinan adanya pendanaan perusahaan yang nanti dipenuhi dengan mengeluarkan saham baru.

    Maka pembayaran dividen hanya akan memindahkan atau membagi risiko dari pemegang saham yang lama kepada pemegang saham yang baru.

    Pada beberapa kasus, tingkat risiko arus kas perusahaan hanya bisa ditentukan oleh bagaimana cara perusahaan beroperasi.

    Bukan pada kebijakan pembayaran dividen.

    3. Teori Perbedaan Pajak [Tax Differential Theory]

    Teori perbedaan pajak ditemukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy.

    Umumnya, tarif pajak terhadap return investasi yang berupa capital gain atau dividen adalah berbeda.

    Tarif pajak capital gain biasanya lebih rendah dari tarif pajak dividen.

    Adanya perbedaan tarif pajak tersebut yang membuat teori ini ada.

    Teori ini menyatakan investor lebih suka menerima capital gain daripada dividen karena capital gain memiliki tarif pajak yang lebih rendah daripada tarif pajak dividen.

    Atau kalaupun perusahaan memutuskan untuk membagikan dividen, investor lebih senang dividen yang dibagikan tidak terlalu tinggi.

    Paling tidak ada 3 alasan mengapa investor lebih memilih capital gain daripada dividen, atau menyukai dividen yang tidak terlalu tinggi.
    • Pertumbuhan laba perusahaan dinilai bisa menaikkan harga saham dan keuntungan modal dengan tarif pajak yang rendah akan bisa mengganti dividen yang tarif pajaknya lebih tinggi.
    • Menunda pembayaran pajak. Pajak terhadap keuntungan yang diperoleh tidak dibayarkan hingga saham tersebut terjual. Apabila dihubungankan dengan nilai waktu dari uang, uang pajak yang dibayarkan dimasa depan memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan pajak yang dibayarkan pada saat ini.
    • Apabila ada saham yang dimiliki oleh seorang investor hingga investor tersebut meninggal dunia. Maka tidak ada sama sekali pajak yang harus dibayar dari keuntungan yang diterima. Ahli waris saham tersebut terhindar dari kewajiban membayar pajak.
    Melihat keuntungan-keuntungan yang dikaitkan dengan pajak tersebut, pemegang saham lebih menyukai manajemen perusahaan menahan laba dan menggunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan dana perusahaan dari pada dibagikan dalam bentuk dividen.

    Namun apabila dividen dikenai tarif pajak yang relatif rendah. Mungkin saja pemegang saham lebih menginginkan dividen yang tinggi.

    4. Teori Hipotesis Sinyal Dividen [Dividend Signaling Hypothesis]

    Teori hipotesis sinyal dividen dikemukakan pertama kali oleh Bhattacharya [1979].

    Pengumuman pembayaran dividen oleh manajemen perusahaan adalah SINYAL bagi investor.

    Sinyal tentang apa?

    Manajemen seolah ingin menunjukkan bahwa perusahaan bisa menghasilkan laba yang diinginkan.

    Manajemen ingin menunjukkan bahwa mereka mampu untuk memenuhi pembayaran dividen kepada pemegang saham.

    Manajemen seolah memberikan sinyal bahwa kondisi keuangan perusahaan sangat kuat sehingga mampu membagikan dividen.

    Perusahaan yang tidak memiliki kondisi kekuangan yang sehat tentu tidak akan sanggup memberikan dividen kepada pemegang saham.

    Informasi tentang kondisi keuangan yang sehat menandakan bahwa perusahaan memiliki prospek yang sangat cerah dimasa yang akan datang.

    Menurut teori ini, dividen adalah salah satu cara mengurangi asimetri informasi atau ketidak-seimbangan informasi antara manajemen dan pemegang saham.

    Manajemen tentu lebih mengetahui detail kondisi perusahaan dan prospeknya dibandingkan pemegang saham.

    Maka dividen kemudian menjadi alat ukur bagi investor untuk menilai kinerja keuangan dan prospeknya dimasa mendatang

    Secara tidak langsung. Teori ini menunjukkan bahwa investor lebih menyukai dividen daripada mendapatkan capital gain.

    Maka pada teori ini, pembayaran dividen akan meningkatkan nilai perusahaan. Menaikkan harga saham perusahaan.

    Semakin tinggi pembayaran dividen, semakin tinggi nilai saham, respon pasar akan semakin bagus.

    Begitu juga sebaliknya, apabila perusahaan menurunkan dividen yang dibagikan dibawah kenaikan yang normal seperti biasanya, maka respon pasar akan negatif.

    Investor seolah membaca sinyal bahwa perusahaan menghadapi masa-masa yang sulit dimasa yang akan datang.

    # Pendapat Lain Tentang Teori Hipotesis Sinyal Dividen

    Modigliani and Miller [MM] meragukan teori ini bahwa perubahan harga saham setelah adanya pembayaran dividen adalah reaksi investor yang lebih menyukai dividen dibanding laba ditahan.

    Menurutnya investor hanya melihat adanya kandungan infomasi bahwa manajemen perusahaan mampu mengelola aset-aset perusahaan yang ada hingga berhasil memperoleh laba.

    Investor tidak melihat besar kecil dividen yang dibayarkan. Melainkan melihat informasi yang bisa menyebabkan harga saham naik.

    Sebelum menyimpulkan, ada beberapa fakta tentang pembayaran dividen.
    1. Ada kenaikan harga saham. 
    2. Ada informasi yang diberikan
    Apakah kenaikan harga saham disebabkan informasi ? ataukah disebabkan oleh preferensi investor terhadap adanya dividen yang dibagikan ?

    Sejauh ini masih belum ada penelitian lebih lanjut dengan bukti empiris yang membuktikannya.

    5. Teori Efek Pelanggan [Clientele Effect Theory]

    Pelanggan disini maksudnya adalah pemegang saham. Dalam sebuah perusahaan yang sudah go public, sahamnya diperjualbelikan secara umum.

    Semua orang bisa membelinya. saham perusahaan akan dimiliki oleh banyak orang atau kelompok. 

    Teori efek pelanggan atau clientele effect theory menjelaskan bahwa terdapat clientele atau kelompok pemegang saham yang memiliki preferensi pandangan, kepentingan, dan tujuan yang berbeda dalam menyikapi kebijakan dividen perusahaan.

    Sebuah perusahaan dimiliki oleh bermacam-macam tipe investor.

    Ada investor yang menginginkan dividen.

    Ada pula yang tidak menginginkan dividen.

    Dua tipe yang bertolak belakang yang berada dalam satu perusahaan.

    Ada kelompok pemilik saham yang sedang membutuhkan dana pada saat itu. Umumnya mereka akan mengharapkan ada pembagian dividen dengan rasio yang tinggi.

    Ada juga kelompok sebaliknya yang pada saat tersebut tidak begitu memerlukan dana. Umumnya kelompok pemegang saham ini lebih menyukai perusahaan untuk tidak membagikan dividen. Pemegang saham ingin perusahaan menahan laba bersih perusahaan untuk perluasan usaha.

    Ada kelompok pemegang saham yang menginginkan capital gain karena pertimbangan perpajakan. Ada pula kelompok yang mengabaikan aspek pajak dan menginginkan pembagian dividen.

    Dengan adanya kelompok-kelompok ini, kebijakan dividen yang diambil akan menguntungkan pemegang saham kelompok tertentu, dan tidak menggembirakan bagi pemegang saham lainnya.

    Adanya kondisi seperti ini bisa jadi mendorong perusahaan untuk menarik investor-investor yang sejalan dengan kebijakan dividen perusahaan.

    Perusahaan yang memiliki kebijakan membagikan dividen yang tinggi cenderung berusaha menarik investor yang juga suka dengan pembagian dividen.

    Begitu juga sebaliknya, Perusahaan yang tidak membagikan dividen cenderung menarik investor yang tidak mengharapkan pembagian dividen.

    Melihat kondisi pasar yang memungkinkan pemegang saham bisa dengan mudah berpindah perusahaan.

    Perusahaan bisa mengganti kebijakan dividen sesuai yang diinginkan dan membiarkan para pemegang saham yang tidak menyukai keputusan tersebut menjual kepemilikan sahamnya ke investor yang lain yang menyukai kebijakan dividennya.

    Namun tentu saja pemegang saham tidak aka melepas sahamnya begitu saja.

    Ada beberapa hal yang akan mereka perhitungkan seperti adanya biaya-biaya yang harus dibayarkan.

    Seperti biaya pialang dan beban pajak misalnya.

    Dan bahkan ada kemungkinan kesulitan dalam mencari investor yang menyukai kebijakan dividen perusahaan yang baru.

    Salah satu referensi :
    Triawan D. [2012] Penggalian Potensi Pph atas Deviden sebagai Upaya Meningatkan Penerimaan Pajak di KPP Madya Semarang, Skripsi S1. Program Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro.

    Pengertian Dividen Saham, Keuntungan dan Syarat-Syaratnya

    Pengertian Dividen Saham, Keuntungan dan Syarat-Syaratnya

    Pengertian Dividen Saham

    Pengertian dividen saham adalah bagian laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk saham. Pembagian dividen saham bisa berbentuk saham yang sejenis ataupun saham dengan jenis lain.

    Mengapa perusahaan membayarkan dividen menggunakan saham ?

    Alasan perusahaan memutuskan kebijakan dividen dengan pembagian dividen saham (stock dividend) umumnya karena perusahaan menghasilkan laba yang cukup tersedia namun arus kas (cashflow) kurang mencukupi, Kondisi kas tidak memungkinkan untuk pembayaran dividen secara tunai. Sehingga laba dibagikan bukan dengan uang tunai, tapi dibayar menggunakan tambahan saham sesuai dengan persentase kepemilikan jumlah saham perusahaan.

    Walaupun banyak kasus dimana perusahaan membagikan dividen saham walaupun kondisi kas perusahaan mencukup untuk membagikan dividen tunai. Tentu banyak faktor dan pertimbangan yang mempengaruhinya.

    Keuntungan Dividen Saham

    pengertian dividen saham adalah
    Sumber gambar : freeiconspng.com

    Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan maupun pemegang saham dengan kebijakan dividen saham. antara lain :

    Keuntungan bagi pemegang saham 
    • Jumlah saham yang dimiliki akan bertambah. Tanpa ada pengeluaran (walaupun sebenarnya nilai investasi dan persentase kepemilikan saham tidak berubah, efeknya mungkin mirip dengan stock split)
    • Tidak ada pajak yang harus dibayaran dengan menerima dividen saham dari perusahaan
    Keuntungan bagi perusahaan 
    • Pembagian dividen saham membuat perusahaan bisa menyimpan laba dan kas perusahaan. Dana tersebut bisa digunakan perusahaan untuk tujuan yang lain. Seperti pengembangan usaha, pembayaran utang yang segera jatuh tempo atau digunakan untuk pembayaran hal yang lain.
    • Struktur modal perusahaan lebih kuat. Dividen saham berasal dari pembagian laba ditahan, dengan cara mememindahkan akun laba ditahan ke pos akun ekuitas saham biasa. Maka jumlah ekuitas atau modal disetor perusahaan akan meningkat. Ujungnya struktur modal perusahaan akan lebih kuat. 
    • Likuiditas perdagangan saham akan meningkat. Pembagian dividen saham akan membuat jumlah saham perusahaan yang beredar akan bertambah. Jumlah saham yang bertambah ini, secara teori akan membuat harga saham tersebut menurun. Harga saham yang murah akan menarik investor lain dalam membeli saham tersebut, dan perdagangan saham perusahaan-pun akan semakin likuid. Kapitalisasi pasar tidak berubah. Mirip seperti perusahaan yang melakukan stock split.
    • Kondisi keuangan tidak terganggu. Kondisi arus kas tidak akan terganggu karena perusahaan tidak perlu mengeluarkan kas tunai untuk membayar dividen. 

    Syarat Syarat Dividen Saham

    Perusahaan yang ingin membagikan dividen namun tidak memiliki dana kas yang mencukupi, tidak serta-merta bisa membagikan dividen begitu saja. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan. 

    1. Saldo Laba Ditahan Mencukupi

    Sama seperti dividen tunai, pembayaran dividen saham juga berasal dari laba ditahan perusahaan. Bedanya, divide saham mengeluarkan uang tunai untuk dibayarkan kepada pemegang saham. Sedangkan dividen tunai menggunakan kas, tidak ada arus kas keluar. Yang ada hanya perpindahan akun laba ditahan perusahaan menjadi modal / ekuitas saham.

    2. Disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

    Sama dengan dividen tunai, pembayaran dalam bentuk dividen saham harus memperoleh persetujuan dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham

    3. Harga Teoritis Saham Sesuai dengan Peraturan yang Ada

    Di Indonesia, ada Bursa Efek Indonesia yang mengatur mengenai penerbitan saham baru atau perusahaan yang akan membagikan dividen saham. Manurut aturan bursa yang ada, harga teoritis saham hasil dari adanya penambahan saham baru paling tidak memiliki nilai Rp 100. Kecuali perusahaan bisa memberikan keyakinan kepada bursa efek bahwa apabila perusahaan tidak membagika dividen saham bisa berpengaruh buruk terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

    Contoh Soal Perhitungan Dividen Saham

    Contoh Soal Perhitungan Dividen Saham

    Contoh Soal Dividen Saham - Deviden saham adalah pembayaran sebagian laba perusahaankepada pemegang saham dalam bentuk saham sesuai dengan persentasi kepemilikannya. Dividen saham yang dibagikan bukan uang tunai. Jadi saham yang dibagikan berasal dari LABA DITAHAN perusahaan.

    Contoh Soal Dividen Saham

    Pada tanggal 06 Juli, PT Blimbing mengumumkan membagikan dividen saham sebeasr 25 % dari saham PT Blimbing yang beredar. Dividen saham akan diterbitkan pada tanggal 15 Agustus kepada para pemegang saham perusahaan.

    Nilai pasar saham perusahaan saat tanggal pengumuman (06 Juli) adalah Rp 2.000 perlembar saham. PT Blimbing memiliki saham yang beredar sebanyak 60.000 lembar saham. Nilai nominal saham PT Blimbing Rp 1.500 perlembar saham.

    Penyelesaian.
    Dalam mencatat pembagian dividen saham, pencatatannya terdapat beberapa opsi :
    1. Dividen yang dibagikan dicatat sebesar nilai nominal saham
    2. Dividen yang dibagikan dicatat sebesar harga pasar saat pengumuman dividen.
    Data-data yang ada :
    • Nilai nominal Saham : Rp 1.500 perlembar
    • Harga pasar saham : Rp 2.000 perlembar
    • Jumlah saham beredar : 60.000
    Karena dividen saham berasal dari laba ditahan. Maka pengumuman dividen akan berpengaruh pada laba ditahan perusahaan. Laba ditahan akan berkurang (Mendebit laba ditahan)

    Pengumuman dividen tunai berarti perusahaan mengakui utang dividen kepada pemegang saham pada saat tanggal pengumuman tersebut. (Mengkredit utang dividen).

    #1. Pencatatan Dividen Saham Sebesar NILAI NOMINAL

     + Jurnal ketika pengumuman dividen
    contoh soal dividen saham 1
    Keterangan :
    Utang Dividen Saham Biasa = persentase pembagian dividen X nominal saham X saham beredar
    Utang Dividen Saham Biasa = 25% X Rp 1.500 X 60.000 = Rp 22.500.000

    Laba Ditahan = persentase pembagian dividen X nominal saham X saham beredar
    Laba Ditahan = 25 % X Rp 1.500 X 60.000 = Rp 22.500.000

    + Jurnal ketika dividen dibagikan (diterbitkan)
    Keterangan :
    Utang dividen yang diakui saat pengumuman tereliminasi atau menjadi modal saham biasa

    #2. Pencatatan Dividen Saham Sebesar HARGA PASAR 

    + Jurnal ketika pengumuman dividen
    contoh soal dividen saham 3
    Keterangan :
    Utang Dividen Saham Biasa = persentase pembagian dividen X nominal saham X saham beredar
    Utang Dividen Saham Biasa = 25% X Rp 1.500 X 60.000 = Rp 22.500.000

    Laba Ditahan = persentase pembagian dividen X harga pasar saham X saham beredar
    Laba Ditahan = 25 % X Rp 2.000 X 60.000 = Rp 30.000.000

    Agio Saham Biasa = persentase pembagian dividen X saham beredar X (harga pasar - harga nominal) 
    Agio Saham Biasa = 25 % X 60.000 X (Rp 2.000 - Rp 1.500) = Rp 7.500.000

    + Jurnal ketika dividen dibagikan (diterbitkan)
    contoh soal dividen saham 2
    Keterangan :
    Sama seperti pencatatan dividen saham dengan nilai nominal, dividen saham yang dibagikan kepada pemegang saham jumlahnya sama Rp 22.500.000. Agio adalah selisih yang akan masuk pada akun tersendiri disisi pasiva neraca. Tidak berpengaruh pada jumlah utang dividen saham perusahaan.

    Deviden: Penjelasan dan Pengaruhnya bagi perusahaan

    Deviden: Penjelasan dan Pengaruhnya bagi perusahaan

    Apa Itu Dividen ?

    Pengertian dividen adalah bagian laba bersih perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham sesuai dengan proporsi kepemilikan sahamnya pada perusahaan.

    Kita semua tahu bahwa salah satu tujuan perusahaan adalah untuk menghasilkan laba.

    Dan deviden adalah laba yang dibagikan kepada pemilik perusahaan. Simpel bukan ?

    Dari sudut pandang investor atau pemegang saham, deviden adalah sumber pendapatan mereka selain capital gain.

    deviden
    Pembagian Deviden

    Apakah laba wajib dibagikan ?

    Tidak.

    Laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan tidak harus dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk deviden.

    Pembagian dividen ditentukan oleh dewan direksi perusahaan yang kemudian akan disetujui oleh rapat umum pemegang saham (RUPS)

    Ketika perusahaan memutuskan untuk tidak membagikan dividen, untuk apa laba yang dihasilkan tersebut ?

    Laba tersebut akan dijadikan laba ditahan.

    Laba akan digunakan kembali oleh perusahaan untuk mendanai kegiatannya.

    Untuk diinvestasikan kembali.

    Biasanya laba yang ditahan akan digunakan kembali untuk membiayai:
    • Kegiatan operasional
    • Ekspansi atau pengembangan usaha
    • Membayar utang  

    Kebijakan Dividen

    Ketika perusahaan berhasil memperoleh laba.

    Muncul pertanyaan...

    Apakah laba akan dibagikan dalam bentuk dividen ataukah ditahan untuk digunakan kembali?

    Mana yang lebih baik?

    deviden
    faktor dividen
    Hal hal yang perlu dipertimbangkan

    Sebelum membagikan dividen, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen. Diantarnya:

    #1. Kebutuhan dana untuk membayar utang dan bunganya.

    Ketika perusahaan memiliki utang jangka panjang dan akan segera jatuh tempo.

    Sebaiknya manajemen mengurungkan niatnya terlebih dahulu untuk membagikan dividen.

    Laba sebaiknya ditahan untuk melunasi utang dan bunganya yang segera jatuh tempo supaya bisa terhindar dari risiko gagal bayar dan dipailitkan oleh kreditur.

    #2. Kestabilan laba

    Apabila perusahaan mampu menghasilkan laba yang cenderung stabil disetiap periode, dewan direksi perusahaan bisa memutuskan untuk membagikan dividen.

    Namun apabila perusahaan tidak mampu menghasilkan laba dengan konsisten, maka sebaiknya manajemen perusahaan bermain aman untuk tidak membagikan dividen.

    Ketidakstabilan pembagian dividen pada setiap periode bisa berdampak buruk terhadap harga saham perusahaan.

    Investor tidak ada yang menyukai ketidakpastian dan ketidak-konsistenan.

    #3. Kemampuan berhutang

    Perusahaan yang memiliki kemampuan berutang yang besar kemungkinan bisa membagikan dividen yang tinggi.

    Apabila perusahaan memerlukan dana dan jika pendanaan tersebut bisa diusahakan dengan meminjam utang, maka perusahaan bisa membagikan dividen kepada pemegang sahamnya.

    Laba ditahan tidak diperlukan lagi untuk dijadikan sumber dana perusahaan.

    #4. Likuiditas perusahaan

    Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek menggunakan aktiva lancar.

    Semakin likuid, maka semakin besar kemungkinan perusahaan bisa membagikan dividen.

    Jika likuiditasnya rendah, sebaiknya manajemen tidak membagikan dividen karena ada risiko perusahaan tidak mampu membayar utang jangka pendeknya.

    Kewajiban jangka pendek biasanya berupa utang terhadap supplier atau utang bank dengan nominal yang tidak terlalu besar.

    Walaupun nominalnya tidak terlalu besar, namun jatuh temponya sangat cepat.

    #5. Tingkat Ekspansi Aktiva

    Pertumbuhan perusahaan membuat kebutuhan perusahaan terhadap aktiva semakin tinggi.

    Semakin tinggi kebutuhan aktiva, maka semakin kecil peluang dividen dibagikan karena laba akan digunakan untuk mengadakan aktiva perusahaan yang dibutuhkan.

    Prosedur Pembayaran Dividen

    Secara umum, pembagian dividen terdiri dari 5 prosedur.

    #1. Declaratin Date (Tanggal Deklarasi)

    Tanggal deklarasi adalah tanggal dimana dewan direksi perusahaan mengumumkan akan membagikan dividen kepada para pemegang saham dan jumlah nominal yang akan dibagikan.

    Biasanya pengumuman dilakukan bertepatan dengan rapat umum pemegang saham (RUPS)

    #2. Holder of Record Date (Tanggal Pencatatan)

    Tanggal pencatatan adalah tanggal dimana perusahaan akan mencatat para pemegang saham yang berhak menerima dividen yang akan dibagikan.

    #3. Cum-Dividend

    Cum dividend adalah hari terakhir investor bisa melakukan jual beli saham perusahaan yang masih mengandung hak mendapatkan dividen.

    Apabila investor memiliki saham perusahaan pada tanggal cum dividen, maka investor tersebut berhak atas dividen yang dibagikan.

    #4. Ex-Dividend Date (Tanggap pemisahan dividen)

    Ex dividen date adalah tanggal dimana pembeli saham pada tanggal ini tidak akan mendapatkan bagian dividen yang dibagikan.

    #5. Payment Date (Tanggal Pembayaran)

    Payment date adalah tanggal pembayaran dividen yang dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan nominal yang telah ditentukan.

    Apa dividen bisa berpengaruh terhadap harga saham ?

    Bisa iya bisa juga tidak.

    Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa dividen bisa berpengaruh terhadap harga saham dan ada yang berpendapat sebaliknya.

    # Sinyal Dividen

    Dividen bisa saja berpengaruh terhadap harga saham perusahaan.

    Menurut Battacharya dalam teori hipotesis sinyal dividen yang ia ciptakan, pengumuman pembagian dividen adalah sinyal dari perusahaan bahwa perusahaan berkinerja baik yang mampu menghasilkan laba dan bisa dibagikan kepada pemegang saham.

    Dalam banyak kasus, ada beberapa perusahaan yang tidak mau untuk tidak membagikan atau sekedar memotong jumlah dividen yang akan dibagikan.

    Perusahaan percaya bahwa dengan memangkas deviden, investor akan menilai bahwa perusahaan sedang berada pada kondisi yang tidak bagus. Tidak memenuhi target yang diharapkan.

    Kondisi ini membuat investor kurang yakin dengan prospek perusahaan dimasa depan dan memutuskan untuk tidak lagi berinvestasi di perusahaan tersebut.

    Mereka akan menjual saham yang dimilikinya.

    Hasilnya, harga saham akan turun.

    Begitu juga sabaliknya.....

    Apabila perusahaan membagikan atau bahkan menambah jumlah dividen.

    Investor akan menilai bahwa perusahaan berkinerja dengan baik.

    Melebihih expektasi yang diharapkan dan memiliki prospek yang cerah.

    Harga sahampun akan mengalami kenaikan.

    # Dividen Tidak Relevan

    Ada juga yang berpendapat bahwa dividen tidak akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan.

    Menurut Mogdiliani dan Miller yang mencetuskan teori dividen tidak relevan menyatakan bahwa nilai perusahaan tidak akan dipengaruhi oleh pembagian dividen perusahaan.

    Menurutnnya, nilai perusahaan hanya di pengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam mencari laba. Bukan pembagian dividennya.

    Jadi, apakah dividen mempengaruhi harga saham ?

    Hal ini kembali kepada preferensi dan pandangan subjektif investor sendiri terhadap pembagian dividen.

    Jenis Jenis Dividen

    Deviden yang dibagikan kepada pemegang saham bukan hanya berupa uang tunai.

    Walaupun uang tunai adalah dividen yang paling sering digunakan, ternyata dividen juga bisa dibayarkan dengan bentuk lain.

    Setidaknya ada 5 macam dividen, antara lain:

    # 1. Dividen Tunai

    Sesuai dengan namanya, dividen tunai dibagikan dalam bentuk uang kas.

    Mungkin inilah jenis dividen yang paling banyak digunakan oleh perusahaan karena paling mudah dan paling disenangi oleh pemegang saham. 

    # 2. Dividen Saham

    Sesuai dengan namanya, deviden saham adalah deviden yang dibayarkan menggunakan saham.

    Dividen saham biasanya dilakukan oleh perusahaan ketika perusahaan kekurangan kas untuk membagikan dividen.

    Misalnya, ketika penjualan meningkat namun lebih banyak penjualan secara kredit sehingga menghasilkan piutang yang banyak dan kas yang minim.

    Kondisi ini menjadi alasan perusahaan untuk membagikan dividen dengan saham. 

    Dan dengan tambahan saham baru ini, jumlah saham para pemegang saham akan bertambah.

    # 3. Dividen Properti

    Dividen properti adalah pembagian laba dalam bentuk barang atau aset perusahaan.

    Jadi perusahaan tidak akan mengeluarkan uang kas atau saham baru.

    Properti yang dibagikan akan dinilai berdasarkan nilai pasar properti yang bersangkutan.

    Perhitungan deviden jenis ini lebih sulit daripada dividen saham dan dividen tunai.

    Oleh karena itu, dividen properti sangat jarang sekali diaplikasikan oleh perusahaan.

    # 4. Dividen Skrip

    Dividen skrip adalah dividen dalam bentuk surat utang.

    Pemegang saham akan menerima surat utang perusahaan.

    Maksudnya begini...

    Surat janji utang dalam dividen skrip menyatakan bahwa perusahaan berhutang kepada pemegang saham dan akan membayarkan pada waktu dan jumah tertentu sesuai dengan isi dari surat utang tersebut.

    Jadi ketika membagikan dividen, perusahaan tidak akan mengeluarkan apapun untuk dibayarkan kepada pemegang saham.

    Perusahaan akan membayarkan dividennya dilain waktu.

    Biasanya...

    Dividen skrip ini disertai dengan bunga.

    Jadi ketika waktu pembayaran telah tiba, perusahaan akan membayarkan dividen plus bunganya.

    Alasan perusahaan menggunakan dividen skrip biasanya karena kekurangan uang kas atau uang kas yang tersedia akan digunakan terlebih dulu oleh perusahaan.

    # 5. Dividen Likuidasi

    Likuidasi adalah  kebangkrutan.

    Ketika sebuah perusahaan membagikan dividen likuidasi, itu artinya perusahaan telah mengembalikan modal para pemegang saham karena perusahaan bangkrut.

    Perusahaan telah dipailitkan oleh pengadilan.

    Tetapi, ketika perusahaan sedang bangkrut, perusahaan tidak bisa serta merta membagikan dividen likuidasi.

    Dividen likuidasi baru bisa dilakukan apabila masih ada sisa kekayaan perusahaan setelah bankrut.

    Ketika bangkrut, semua aset perusahaan digunakan untuk pembayaran utang dan kewajiban perusahaan yang belum terpenuhi.

    Dan jika ada sisanya, maka perusahaan bisa membagikan dividen likuidasi kepada pemegang saham.

    Namun apabila tidak tersisa, maka pemegang saham tidak akan mendapatkan aset apapun.

    Menghitung Dividen

    Ada beberapa hal yang harus diketahui untuk bisa menghitung dividen yang dibagikan oleh perusahaan, antara lain:
    1. Laba bersih
    2. Dividend payout ratio [DPR]*
    3. Jumlah saham yang beredar.
    Notes:
    *DPR adalah rasio dividen yang akan dibagikan terhadap laba bersih perusahaan.

    Contohnya:

    Perusahaan Nivia Rotan pada tahun berjalan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1.000.000. PT Nivia Rotan memiliki 10.000 lembar saham yang beredar.

    PT Nivia Rotan memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 30 % dari laba bersih. Sisanya akan digunakan kembali untuk ekspansi perusahaan.

    Dengan data tersebut, kita bisa menghitung besaran deviden perlembar saham yang akan diterima oleh pemegang saham.

    menghitung dividen
    Setelah nominal dividen diketahui, kita bisa menghitung besaran dividen perlembar saham yang diterima oleh pemegang saham
    menghitung deviden

    Jadi setiap lembar saham akan mendapatkan bagian dividen sebesar IDR 30 

    # Tambahan: Perlakuan Akuntansinya

    Pencatatan pembagian dividen dimulai sejak dividen diumumkan oleh perusahaan. 

    Diatas telah dijelaskan bahwa tanggal pengumuman pembagian dividen tidak sama dengan tanggal pembayaran dividen.

    Jadi penjurnalan terhadap dividen akan dicatat sebanyak 2 kali. 

    Yaitu ketika dividen diumumkan dan dividen dibayarkan.


    Notes:
    * Ketika pengumuman: artinya perusahaan akan berjanji akan membayarkan dividen. Maka perusahaan artinya telah berhutang dividen kepada pemegang saham yang diambilkan dari laba ditahan. Utang dividen diakui karena dividen belum dibayarkan.

    * Ketika pembayaran: Perusahaan telah melunasi utang dividennya (mendebit utang dividen) dengan mengeluarkan uang tunai (menkredit kas)

    Penutup

    Mana yang lebih baik....

    Dividen besar atau kecil ?

    Dari sisi perusahaan.

    Sebenarnya baik tidaknya tergantung pada kebutuhan perusahaan itu sendiri.

    Perusahaan yang sedang membutuhkan dana untuk pengembangan usaha atau sekedar melunasi hutang tentu ingin dividen yang dibagikan kecil bahkan kalau perlu tidak membagikan dividen.

    Sedangkan bagi perusahaan yang sudah "well established". sudah dalam top performance, kinerjanya sudah stabil cenderung membagikan dividen dengan nominal yang besar.

    Dari sudut pandang investor, investor cenderung ada dua tipe.

    Tipe pertama adalah investor jangka pendek.

    Investor jangka pendek ini umumnya mengharapkan dividen yang besar.

    Menginginkan keuntungan dividen yang maksimal karena belum tentu diperiode yang akan datang masih menjadi pemegang saham.

    Mereka mudah sekali memperjual belikan sahamnya.

    Sedangkan investor jangka panjang umumnya tidak keberatan  jika dividen yang dibagikan sangat kecil bahkan tidak dibagikan sekalipun selama perusahaan bisa memanfaatkannya untuk pengembangan usaha perusahaan.